Sabtu, 19 Januari 2019 WIB

Andreas, Sejak Kecil Sudah Akrab dengan Ajaran Bung Karno

Oleh : Aqila Zafira | Kamis, 14 April 2016 | 23:10 WIB


Dr. Andreas Hugo Pareira, MA /ist

 

POROSJAKARTA.COM - Ketika masih duduk di Sekolah Dasar, Dr. Andreas Hugo Pareira, MA doyan membaca. Karena di Flores, kampung halamannya minim buku, dia melahap buku-buku ajaran Bung Karno miliki ayahnya yang berprofesi sebagai guru. Kini dia menjadi salah satu tokoh penting di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai penerus ajaran dan perjuangan Bung Karno.

Saat kelas 4 SD, sekolahnya pernah dikunjungi bupati. Satu persatu muridnya ditanya, apa cita-citanya. Ada yang menjawab ingin menjadi dokter, pilot bahkan presiden. Namun jawaban Andreas membuat sang bupati geleng-geleng kepala.

“Waktu itu saya jawab ingin menjadi pemain sepak bola. Menurut saya saat itu, jika menjadi pemain bola saya bisa berpergian ke luar negeri,” ungkap Andreas di ruang kerjanya di DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (26/3/2016).

Meskipun gagal menjadi pemain bola profesional, namun fans berat Barcelona ini bisa mewujudkan cita-citanya pergi ke luar negeri sebagai politisi. Meskipun politisi bukan menjadi cita-cita masa kecilnya, namun tanpa sadar Andreas sudah membekali dirinya menjadi seorang politisi sejak di usia dini.

Masa kecil pria kelahiran Flores, NTT pada 31 Mei 1964 boleh dibilang kurang beruntung. Tahun 1970-an, kampung halamannya belum tersentuh pembangunan. Jangankan bangunan sekolah yang permanen, buku bacaan untuk anak-anak saja nyaris tidak ada di SD Katolik I Maumere, tempatnya belajar. Kondisi ini menjadi siksaan bagi Andreas yang hobi membaca.

Untung saja ayahnya yang kebetulan berprofesi sebagai guru memiliki banyak koleksi buku. Tapi, karena sang ayah adalah pengagum Bung Karno, otomatis buku-buku koleksinya didominasi buku-buku tentang sosok Bung Karno. “Saya terpaksa membaca buku-buku berat di usia dini karena tidak ada pilihan,” ujarnya.

Bayangkan, untuk anak usia kelas 4 SD sudah hatam bacam buku Bung Karno yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”, “Manipolusdek”, “Tujuh Bahan Indoktrinasi”, “Surat-surat dari Ende” dan beragam buku sejarah lainya.

Andreas melanjutkan pendidikan di SMP Seminari Yohanes XXIII Lela, kemudian dia ke Jakarta dan sekolah di SMA St. Asisi. Tahun 1982, dia masuk FISIP Unviersitas Parahyangan, Bandung.

Saat kuliah inilah, hasrat politiknya mulai muncul. Apa yang selama ini dia baca dan pahami mulai ingin diaplikasikan. Sarananya adalah organisasi mahasiswa Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

“Saat itu saya sedang mencari sosok tokoh nasional. Buat saya sosok itu adalah Bung Karno. Karena beliau sudah tidak ada, saya anggap dengan masuk GMNI bisa lebih mengenal dan mendekatkan diri dengan ajaran Bung karno,” terang Andreas.

Jiwa pergerakan Andreas terusik saat aktif di GMNI yang dimasa itu terkena imbas kebijakan orde baru yang paranoid dengan apapun yang ada kaitannya dengan Bung Karno. Di masa desoekarnoisasi, Adreas kucing-kucingan dengan aparat keamanan untuk melakukan aktifitas di GMNI Bandung.

“Waktu itu GMNI terpecah dua kelompok. Sebagian setuju dengan asas tunggal, sebagian lagi mempertahankan marhaenisme sebagai ideologi GMNI,” tutur Andreas.

Selama kuliah dan bergabung di GMNI, ayah dari Christian Satriadamai Pareira menemukan dan memahami arti dari kata pluralitas dalam kehidupan sosial. “Saya perantau dari Flores yang tinggal di Bandung, saya kristen katolik. Namun saya tidak merasakan adanya diskriminasi di GMNI yang menjadi miniatur ke Indonesiaan,” jelasnya.

Seorang Kolomnis

Lulus kuliah, Andreas menuntaskan hasrat berpolitiknya melalui tulisan sebagai kolomnis di Pikiran rakyat, koran terbesar di Jawa Barat. Sambil merampungkan S2-nya, Andreas menjadi dosen mata kuliah Sistem Politik Indonesia di almamaternya hingga meraih gelar Master of Art (MA).

Selanjutnya melalui beasiswa, Andreas mendalami Sosiologi Politik di Universitas Pasau, Jerman tahun 1992. Tahun 2000 dia kembali lagu ke Jerman hingga meraih gelar Doktor (S3) bidang Politik Internasional di Universitas Giessen.

Saat kuliah di Jerman, Andreas sangat dekat dengan Profesor Bernhard Dahm, seorang ilmuan yang paham betul tentang Indonesia. Salah satu alasan kedekatannya dengan sang profesor karena Andreas ingin mengetahui perkembangan politik di Indonesia.

“Selama di Jerman sekitar tahun 1994, saya nyaris tidak dapat mengakses informasi tentang Indonesia. Jaman itu internet belum familiar. Kebetulan Profesor Dahm berlangganan majalah Tempo. Jadi setiap ada edisi terbaru, saya pasti mampir ke rumahnya,” kenang Andreas.

Suatu ketika, saat Andreas membaca edisi Tempo dengan gambar cover Megawati Soekarnoputri yang baru saja menyelenggarakan Munas PDI di Surabaya, sang profesor yang menulis buku “Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan” itu mengajukan pertanyaan yang sulit dia jawab.

“Andreas, menurut kamu, siapakah orang Indonesia yang mampu mengalahkan Soeharto? Itu pertanyaan yang sulit saya jawab karena saat itu Soeharto masih sangat berkuasa,” jelas Andreas.

Saat itu, suami dari Dra. Chatarina VD Indarwati Pareira, M.Si berkelit dengan bilang, “terus terang prof, Soeharto ini terlalu kuat, saya tidak bisa membayangkan ada sesorang yang bisa mengalahkan Soeharto”.

Tanpa diduga, menurut Andreas, sang profesor menunjuk gambar cover Tempo yang memajang wajah Megawati. “Dia menunjuk wajah Ibu Mega,” kenang Andreas.

Kepada Andreas, profesor yang fasih berbahasa Indonesia itu memaparkan argumentasinya sehingga dia berani memastikan bahwa Megawati-lah orang yang akan mengalahkan Soeharto.

Menurut Dahm, selama berkuasa, Soeharto selalu menggunakan pressure dan iming-iming untuk melemahkan lawan politiknya. Dan kedua cara itu tidak mempan diterapkan untuk melemahkan Megawati.

“Menurut profesor Dahm waktu itu, Ibu Mega tidak hanya memiliki warisan biologis, tetapi juga memiliki warisan ideologis. Karena dia perempuan, sehingga dia tahan menderita, sabar dan siap dipressure serta tidak mudah diiming-iming,” ungkap Andreas.

Seribu Kawan

Ketika kembali ke Indonesia tahun 1998, Andreas masuk kampus lagi sebagai dosen. Sambil melakoni profesinya, dai juga mulai berpolitik praktis dan bergabung denga PDI Pro Mega Jawa Barat.

Karir politiknya semakin moncer usai dirinya meraih gelar dokter. Tahun 2015, Andreas masuk Senayan setelah terpilih menjadi Anggota DPR RI, 2005-2009. Partai mempercayakannya bertugas di Komisi I membidangi Pertahanan dan Keamanan.

Pria yang sudah menjelajahi hampir separuh negara di dunia ini memiliki pemahaman yang mumpuni terkait isu internasional dan hubungan luar negeri sesuai latar belakang akademis dan seabrek pengalaman di tingkat internasional.

Bagi Andreas yang kini menjabat Ketua Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan DPP PDI-P, politik itu melekat dalam kehidupan manusia. Artinya, politik menentukan perkembangan dan peradaban suatu bangsa. Dengan begitu, politik atau politisi merupakan profesi mulia karena lingkupnya bukan sebatas merebut atau meraih kekuasaan, tetapi menggunakan kekuasaan yang diraih untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.

Dalam pergualan, Adreas punya prinsip, satu orang musuh terlalu banyak, 1.000 kawan terlalu sedikit. Kemampuannya berinteraksi dengan seluruh lapisan masyarakat otomatis membuat banyak pihak mengakui eksistensinya sebagai politisi yang mumpuni dan berpengaruh. []

Pendidikan:

S3 Politik Internasional Universitas Giessen, Jerman

S2 Sosiologi Politik Universitas Pasau, Jerman

S1 FISIP Universitas Parahyangan Bandung

Karier:

Anggota DPR (2009-2014)

Dosen FISIP Unpar Bandung

Dosen FISIP Unpad Bandung

Editor penerbitan/kolumnis lepas

Wakil Ketua Balitbangda PDI-P Jawa Barat

Wakil ketua Pengurus Alumni GMNI Jawa Barat

Wakil Ketua DPD PDI-P Jawa Barat

Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Pertahanan-Keamanan DPP PDI-P

Ketua Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan DPP PDI-P []

 

 


Komentar


Jakarta Pusat - 1 hari yang lalu

Jika Gagal Revisi PP, Perangkat Desa Bakal Polisikan Presiden

POROSJAKARTA.COM, MENTENG – Sudir Santoso selaku kuasa hukum Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) akan..
Jakarta Pusat - 1 hari yang lalu

Astari Indah Vernideani Juara Miss Tourism Internasional 2018-2019

POROSJAKARTA.COM, GAMBIR - Masyarakat Indonesia tentu merasa bangga atas torehan gemilang yang diraih oleh Putri..
Jakarta Timur - 2 hari yang lalu

Pejabat Militer Asli Papua Sangat Dibutuhkan di Pedalaman Papua

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Sudah saatnya Jabatan-jabatan strategis militer di Papua diutamakan dijabat oleh prajurit..
Jakarta Pusat - 2 hari yang lalu

Pertamina, PTBA dan Air Products Sepakati Bentuk Joint Venture Clean Energy

POROSJAKARTA.COM, TANAH ABANG - PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan "Air Product and Chemicals Inc"..
Jakarta Pusat - 2 hari yang lalu

Yusuf Makuta : Kedatangan Jokowi ke Gorontalo Dapat Mendongkrak Suara PDIP

POROSJAKARTA.COM, KEMAYORAN - Pileg dan Pilpres makin dekat, tentu saja kampanye dan konsolidasi partai atau caleg..
Film - 3 hari yang lalu

Film “Cinta Anak Negeri” Sajikan Pesan Moral Persatuan dan Toleransi

POROSJAKARTA.COM, MANGGA BESAR– Sambut pesta demokrasi pada 17 April mendatang, Padma Film Produdction dan..
Jakarta Utara - 3 hari yang lalu

Reses di Lodan Ancol, Steven Setiabudi Musa Infokan Pada Warga Jumlah Penerima Lansia Akan Ditambah

POROSJAKARTA.COM - ANCOL - Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Steven Setiabudi Musa,..
Khas - 3 hari yang lalu

KBRI Suva Sambangi Camp TKI di Nadi, Fiji

POROSJAKARTA.COM - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kepulauan Fiji di Suva,..
Jakarta Utara - 3 hari yang lalu

Reses di Pademangan Timur, Steven Setiabudi Musa Ingatkan Warga Agar Manfaatkan Fasilitas Pemerintah

POROSJAKARTA.COM, PADEMANGAN - Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Steven Setiabudi Musa,..
Jakarta Utara - 4 hari yang lalu

Ibu Ida, Warga Warakas Tersenyum, Himpitan Ekonomi Mendapat Jawaban Positif dari Anggota DPRD DKI Steven Setiabudi Musa

POROSJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK -  Salah satu warga Warakas, Ibu Ida (34) boleh bernapas lega. Permasalahan..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close