Rabu, 12 Desember 2018 WIB

Novel Baswedan, Menantang Maut Melawan Kezoliman

Mike Wangge | Senin, 17 April 2017 | 14:00 WIB


Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan (foto/ist)

CAWANG, PJ – “Saya tahu sudah ada orang yang membuntuti saya,” sebut Novel Baswedan (40) di sela-sela rasa sakitnya ketika wajahnya disirami air keras usai shalat subuh dekat rumahnya di Masjid Al Ihsan Jalan Deposito, Kelapa Gading Jakarta utara, Selasa (11/4/2017) sekitar pukul 05.10 menit.

Ungkapan di atas menunjukkan bahwa Novel yang melepaskan statusnya sebagai Perwira Polisi dengan pangkat Komisaris Polisi pada tahun 2014 ini sadar bahwa sudah ada orang mengintainya, akan tetapi ia seperti bergeming atas suasana teror yang mengancam keselamatan jiwanya ini. Ia tetap tegar dan merasa bahwa teror dan mungkin juga kematian sudah menjadi bagian dari mengemban tugas amat mulia sebagai penyidik KPK ini.

Akhirnya peristiwa yang tidak diinginkan itupun terjadi. Wajahnya yang putih dan sedikit berjenggot ini disiram air keras. Tahu bahwa wajahnya disiram zat berbahaya, Novel segera berteriak sambil menutupi wajahnya: “aduh.. ini air keras.” Mata orang-orang yang berjalan pulang bersamanya kaget. Mereka langsung mengarahkan perhatiannya pada dua orang pelaku. Sayangnya mereka tidak berdaya karena keduanya langsung kabur.

Sementara Novel sendiri, usai berteriak kesakitan, langkah kakinya langsung menuju lokasi keran air. Di sana, ia mendekapkan wajahnya pada air keran yang tengah mengalir itu.

Kesadaran untuk segera membasuh wajahnya dengan air yang mengalir sudah terbangun sejak ia menjadi penyidik KPK. Novel sadar betul tugas sebagai penyidik KPK amat berbahaya dan sangat akrab dengan teror, ancaman, bahkan pembunuhan terhadap dirinya sekalipun. Maka Novel siap-siap, apa kira-kira tindakan pertama bila kelak ia disiram air keras. Petunjuk dokter mengatakan langsung membasuh bagian yang tersiram dengan air yang mengalir.

Sudah berkali-kali Novel mengalami teror, ditangkap, dan ditabrak beberapa kali. Terakhir tahun 2016 motornya ringsek. Mujur Novel masih bisa selamat. Meskipun mengalami teror demi teror dalam hidup dan tugasnya sebagai penyidik KPK akan tetapi langkah Novel tak pernah surut untuk tetap maju dan menjadi penyidik senior di KPK dalam kasus-kasus mega korupsi seperti E-KTP ini.

Novel lahir di Semarang, di Jalan Raden Patah kampung Sumur Umbul, 20 Juni 1977. Semasa sekolah SD hingga SMA, di Semarang, nama Baswedan oleh orang tuanya tidak dicantumkan di belakang nama ‘Novel’. Itu sebabnya semasa sekolah ia hanya dikenal sebagai Novel saja. Tak ada embel-embel Baswedan.

Mengapa? Entalah. Mungkin terlalu berat bagi Novel kecil untuk menyandang nama besar sang kakeknya Abdurrahman Baswedan, biasa disingkat AR Baswedan. Abdurrahman Baswedan adalah Pahlawan Nasional.

AR Baswedan adalah anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia), anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), dan Anggota Dewan Konstituante. AR Baswedan adalah salah satu diplomat pertama Indonesia yang ikut berperan mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia, yaitu dari Mesir. Luar biasa bukan…!

Mungkin darah kakeknya masih mengalir dalam diri Novel yang pada tahun 1994 (kelas 3 SMA Negeri 2 Semarang k) mulai memilih jurusan di Perguruan Tinggi. Novel memilih melanjutkan pendidikannya di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.

Tentu guru-gurunya kaget, Novel memilih melanjutkan pendidikan ke Akpol. Dari segi prestasi akademik menurut gurunya, Novel memang anak pintar, meskipun tidak amat luar biasa. Dia senang pelajaran matematik, dan fisika. Nilainya rata-rata bagus.

"Yang saya ingat itu anaknya halus, pendiam, sederhana, saat itu tidak terlalu kocak juga, tidak menonjol, pembawaan kalem, rata-rata nilai bagus," kata Sumarno guru fisikanya. Kesenanganya adalah mengaji, ke masjid, dan semua kegiatan Islami.

Tamat SMA Negeri 2 Semarang 1994. Novel masuk Akademi Kepolisian dan lulus pada tahun 1998. Tahun 1999-2005 bertugas di Polres Bengkulu.

Tahun 2005 Novel dipindahkan ke Jakarta. Mungkin alasan pemindahan sangat normatif. Akan tetapi, kepindahannya ke Jakarta dan kemudian dipilih Polri menjadi penyidik KPK, apakah ini bisa berarti ‘membuang’ figur yang dianggap tidak sejalan dengan pimpinan di sana?

Bisa jadi di Bengkulu, Novel ingin mengungkap kasus-kasus besar, akan tetapi tidak kesampaian. Maka untuk kepentingan pembuktian ini, perlu investigasi lebih jauh mengapa Novel dipindahkan ke Jakarta dan mengapa ia ditunjuk Polri menjadi penyidik KPK.

Saat itu – waktu KPK meminta tenaga penyidik dari Polri dan dari Kejaksaan – penyidik KPK masih dianggap anak bawang yang tidak akan pernah bisa berbuat banyak melawan koruptor. Besar kemungkinan pemilihan novel adalah ‘dibuang’ agar praktek-praktek korupsi di tubuh Polri tidak terusik oleh penyidik KPK.

Namun apa yang terjadi setelah Novel di KPK? Dia mengungkap sejumlah kasus besar yang menghebohkan. Ia mengungkap kasus mega korupsi Hambalang dengan tersangka utamanya adalah Bendahara Partai Demokrat, Nassarrudin, dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum serta Menteri Pemuda dan Olahraga, Andy Mallarangeng.

Kasus yang tidak kalah panasnya yang diburu Novel Baswedan adalah kasus korupsi simulator SIM yang menjadikan Kepala Korlantas Polri saat itu Irjen Djoko Susilo sebagai tersangka.

Polri tidak tinggal diam. Penetapan Irjen Joko Susilo sebagai tersangka oleh KPK membuat hubungan dua institusi ini, KPK dan Polri, memanas. Novel mesti dijerat agar tidak bisa berkutik terhadap insitusinya sendiri. Maka mulailah cucuk AR Basewedan ini ‘digerayangi’. Novel ditangkap. Ia dijerat dengan kasus penembakan enam pencuri sarang burung walet yang dilakukan oleh anak buah Novel Baswedan tahun 2004 atau delapan tahun setelah kasus itu dinyatakan selesai di PN Bengkulu.

Tidak berhenti disitu saja. Polri kemudian menarik kembali para penyidiknya dari KPK. Ada 13 penyidik KPK dari instasi Polri, di antaranya adalah Novel Baswedan. KPK merespons permintaan Polri dengan mempersilahkan penyidik dari Polri untuk memilih, apakah masih ingin bergabung dengan KPK atau kembali ke instasinya. Dari 13 penyidik, enam di antaranya memilih alih status menjadi pegawai tetap sebagai penyidik KPK dan melepas seragam Polrinya. Dari keenamnya terdapat Novel Baswedan. Itu terjadi pada November tahun 2012.

Penarikan 13 penyidik ini menambah daftar panjang penarikan penyidik Polri yang ditugaskan di KPK. Setelah pada September lalu 2012, Polri telah menarik 20 penyidik di KPK. Busyro mengakui, penarikan penyidik ini berdampak pada instabilitas kinerja penyidikan kasus di KPK.  Menurut Busyro penarikan 13 penyidik ini diakui melemahkan KPK, meskipun KPK tidak akan mandek karena penarikan itu, tapi yang jelas ini sangat menghambat.

Setelah kasus besar itu, Novel Baswedan kembali ditunjuk untuk menyidik kasus mega korupsi E-KTP pada tahun 2015. Penunjukkan ini membuat teror terhadap Novel makin menjadi jadi. Entah sampai kapan teror terhadapnya ini. Apakah sampai nyawa Novel menjadi taruhannya atas upaya membongkar kasus besar seperti E-KTP ini, semuanya masih tanda tanya besar. Mungkin saja Novel aman, tetapi teror terhadapnya sulit bisa dihentikan sepanjang tidak ada batasan aturan yang membuat semua penyidik di KPK terlindungi oleh sebuah kekuatan yang mengalahkan teror-teror ini.

Apapun, Novel dan juga semua penyidik di KPK membutuhakn perlindungan dari ancaman teror sepanjang mereka dipercaya menjadi penyidik yang handal untuk mengungkap kasus-kasus mega korupsi di negeri ini. Selamat berjuang untuk semua penyidik di KPK termasuk Novel Baswedan. Tetaplah semangat meskipun teror terhadap Anda belum berujung. []


Komentar


Jakarta Selatan - 10 jam yang lalu

Sisca Dewi : Saya Lebih Takut Dosa

PJ, PASAR MINGGU – Usai sidang kasus pencemaran nama baik dan pemerasan, terdakwa Sisca Dewi mengaku tidak..
Jakarta Pusat - 12 jam yang lalu

Silaturahim Bersama Ajak Relawan WIN Jaga Kerukunan dan Toleransi

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Relawan WAhana Cinta NKRI atau (WIN) berkumpul Menyanyi, menari serta berjoget bersama..
Jakarta Timur - 2 hari yang lalu

Menteri Yohana : Lansia Belum Diperhatian Secara Optimal

POROSJAKARTA.COM, TMII - Menteri Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA RI) Yohana Yambise..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

Ketua PKRI, Stevanus Wetipo Mengutuk Keras Kelompok KKP Membunuh 31 Karyawan Pekerja Jalan Trans Papua

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Ketua Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, Stevanus S. Wetipo mengutuk keras tindakan..
Jakarta Pusat - 1 minggu yang lalu

Kuasa Hukum Hutomo Mandala Putra, Erwin Kallo: Kami bukan Pemilik Gedung Granadi, Kami Hanya Penyewa

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Maraknya berita-berita yang tidak benar tentang disitanya gedung Granadi terkait..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

PKRI MENOLAK RENCANA AKSI MAHASISWA PAPUA SE JAWA BALI TANGGAL 1 DESEMBER 2018

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Persatuan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) menolak keras semua bentuk aksi..
Nusantara - 1 minggu yang lalu

Panglima TNI: Latihan Operasi Gabungan Tingkatkan Profesionalisme TNI

POROSJAKARTA.COM, SITOBONDO - Latihan Operasi Gabungan di Puslatpur Marinir 5 Baluran Situbondo, yang digelar dalam..
Sosok - 1 minggu yang lalu

Prof YK : Satgas Peradilan RI Hadir di Gorontalo Kawal Pelanggaran Hukum dan HAM

POROSJAKARTA.COM, MENTENG - Kehadiran Satuan Tugas Peradilan Rakyat Indonesia atau Satgas Peradilan RI dibawah..
Nusantara - 1 minggu yang lalu

Bagikan Buku Gratis Dalam Rangka Peduli Pendidikan di Puncak Jaya

POROSJAKARTA.COM, PAPUA -Tim Pembinaan Masyarakat TNI bersama Kodim 1714/Puncak Jaya berkunjung  ke pemukiman..
Film - 2 minggu yang lalu

Film One Cut Of The Dead (2018): Horor Thriller Zombie dari Jepang

POROSJAKARTA.COM -  Film One Cut of the Dead, yang memiliki judul lain Camera wo Tomeru na, adalah film Jepang..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close