Minggu, 24 Maret 2019 WIB

Ini Cerita Dubes RI, Konflik Suriah Bukan Jihad, Tapi Politik

Oleh : Abuzakir Ahmad | Sabtu, 03 Nopember 2018 | 08:31 WIB


Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto diwawancara media usai Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia" di Grand Kemang Jakarta Selatan, Kamis (1/10). 9Foto: PJ/ Zaki)

POROSJAKARTA.COM, KEMANG - Duta Besar RI untuk Suriah Djoko Harjanto, bercerita, konflik di Suriah itu tentu membingungkan karena Suriah itu jaraknya sangat jauh. Tetapi sebagai utusan khusus Dubes RI yang mewakili 265 juta jiwa penduduk Indonesia hanya menyampaikan fakta.

Kata dia,  konflik Suriah merupakan gelombang dari "Arab Stream" yang pertama itu Tunisia. Kedua Mesir, kemudian Libya.  Presiden Libya terbunuh yang disasar oleh negara-negara barat dan sekutu-sekutunya terutama Isreal menjatuhkan Presiden Bashar al Assad mereka, pemberontak prediksi tiga bulan harus jatuh.

Akan tetapi, Bashar al Assad hingga kini,  7 tahun tidak jatuh. Dia bersyukur kalau reformasi di Indonesia, jatuhnya Soeharto dengan cara mengundurkan diri, dimohon turun dengan legowo.

"Berbeda di negara Arab, presidennya  turun itu bukan perang, tapi dibunuh, seperti terjadi di Tunisia, Libya dan di Yaman. Itu harus dipahami dulu, "ujar Djoko pada Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia di Grand Kemang, Jaksel, Kamis (1/10/2018).

(Ki-Ka) Rahma Sarita, Ust.Harimi Makmun, Syekh Adnan al-Afyouni, Djoko Haryanto, Ahsin Mahrus, Ainul Rofiq pada Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia" di Grand Kemang, Kamis (1/10). (Foto: PJ/Zaki)

Pada Maret 2011, saat itu Djoko masih di Konsul Jenderal di Malaysia Serawak. Gelombang demontrasi damai dengan yel-yel reformasi berakhir dengan  konflik.

Kejadian pada demonstrasi tersebut, ada pihak-pihak oposisi yang mendapatkan senjata, hingga merambah kemana-mana. Mereka menamakan diri "Free Army".

"Free Army" itu tentara perang yang tidak mendukung rezim pemerintah. Mereka mempengaruhi masyarakat dengan memberikan senjata, tanpa ada pendidikan seperti layaknya militer, latihan perang, berlari, tiarap dan lain sebagainya. Intinya, angkat senjata menjadi "Free Army".

Kemudian Front Al-Nusra atau yang juga dikenal dengan Alqaidahnya Suriah, tapi untuk Suriah Jabhat Al-Nusra sampai sekarang namamya ganti-ganti terus.

Pada tahun 2013, muncul ISIS (Islamic State in Iraq and Syria). Munculnya gerakan ISIS membuat orang takjub dan tertarik, hingga ada yang terbius untuk bergabung.

Munculnya gerakan ISIS saat dirinya menjabat sebagai Dubes RI untuk Suriah tepat pada 2014. Saat itu memasuki masa perang. Tugasnya paling utama sebagai Duta Besar untuk melindungi warga Indonesia, seperti TKI, mahasiswa, pelajar dan staf kedutaan.

Dukungan dari AS, Isreal, dari negara-negara Uni Eropa, negara tetangga Turki, Yordiania ikut memusuhi, sehingga wilayah Suriah itu tinggal sedikit.

Pada tahun 2015, Djoko sudah masuk di Aleppo, bukan karena dia berani. Namun  karena ada TKI yang membutuhkan perlindungan diwilayah tersebut.

"Jadi, Bismillah saja. Di Aleppo, setiap hari perang. Tidak semenit pun berhenti itu mortir, senapan, AK47 dan bom ysng terus menghacurkan kantor pemeritahan, "katanya.

Pemerintah juga menggempur lokasi persembunyian para oposisi bersenjata. Hingga Gubermur Aleppo mengatakan wilayah pemerintah itu tinggal 20 persen.

Pada 30 September 2015 Rusia masuk,  pemberontakan dibanyak negara membuat pemerintah ingin mempertahankan diri. Makanya Suriah  mengundang Rusia ikut bergabung. Itu diumumkan di forum  PBB di New York AS,  untuk membantu  memulihkan kedualatan Suriah.

Kehadiran Rusia ke Suriah  hampir tidak ada yang protes. Rusia kemudian menyerang lewat udara. Tentara pemerintah Suriah dibantu oleh dewan dengan milisinya tinggal di Libanon, yakni Hisbullah.

Peperangan berlangsunh lama menyebabkan banyak korban antara 500-600 ribu orang. Tapi, Djoko meyakini, faktanya lebih dari itu karena ada yang dirahasiakan.

Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan Rusia dan tentara pemerintah makin kuat, Suriah bisa mrngambil alih wilayah demi wilayah yang  dikuasai oleh pemberontak seperti Madani, Madaya dan lainnya.

Lalu pada 2017, Aleppo pun bisa dikuasai oleh pemerintah sehingga yang namanya ISIS itu secara kasat mata, pemberitaan, itu sudah dipinggirkan. Tapi, bukan tidak ada lagi, ISIS masih ada di Raka.

"Tetapi di Aleppo sudah bersih karena saya bulan Mei kemarin (2018) ikut pameran Internasional di Aleppo. Itu cepat sekali. Sudah bersih. Tidak kayak dulu," ceritanya.

Sebenarnya, perang terjadi di Suriah bukan perang jihad, tapi melainkan persoalan politik. Konspirasi dari persekongkolan Barat dan Israel untuk menjatuhkan pemerintah Suriah.

Pemeritahnya juga ingin dibantu oleh luar negeri utamanya Rusia. Secara militer China mendukung. Dari segi ekonomi Suriah dikuasai oleh China. Karena embargo, barang Jerman, seperti  mobil untuk kedutaan pun tidak bisa dibeli.

Di Sana (Suriah) itu ada Syiah ada Sunni tetapi kalau disampaikan, sebenarmya Syiah dan  Sunni itu tidak bertikai. Sholat di Masjid itu tidak apa-apa. Tidak ada salah satu kelompok yang langsung ngepel jejak kaki di Masjid, seperti yang diisyukan selama ini.Pemerintah Suriah sekarang sudah mengusai hampir 80 persen wilayah.

Perdamain demi perdamaian itu diupayakan, akan tetapi lima negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa China, Perancis, Rusia, Britania Raya (Inggeris) dan Amerika Serikat), kalau ada yang mendukung Suriah nanti akan dapat "hak veto" Amerika.

"Jadi, saya sebagai Duta Besar RI untuk Suriah yang sebentar lagi berakhir. Terima kasih buat Suriah," pungkas Djoko. [PJ/Abuzakir Ahmad]


Komentar


Nusantara - 6 jam yang lalu

Binmas Noken Polri Hadir di Tengah Para Korban Banjir Sentani

POROSJAKARTA.COM, SETANI - Satu Minggu lamanya banjir bandang menerjang Santani dan Kota Jayapura menyebabkan 112..
Seleberita - 1 hari yang lalu

Titi Kamal Langsung Jatuh Cinta ‘Rumput Tetangga’

POROSJAKARTA.COM - Titi Kamal sebagai artis papan atas dan berpengalaman, sangat hati-hati dalam setiap menerima..
Nusantara - 2 hari yang lalu

150 Unit Rumah Untuk Para Veteran, Pejuang Trikora dan Kepala Suku Tahun 2019 di Papua

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Ketua PKRI (Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia) Stevanus Wetipo menyampaikan ucapan..
Nusantara - 2 hari yang lalu

Rapat Koordinasi PKRI Bersama Kasatker Penyedia Perumahan di Papua

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Dalam rangka pelaksanaan membangun 12.000 unit perumahan di Papua pada tahun 2019, Kepala..
Jakarta Pusat - 3 hari yang lalu

“Batik Sudagaran Surakarta” Karya Hartono Sumarsono Mengulas Batik Luar Keraton

POROSJAKARTA.COM, SEMANGGI - Nama Hartono Sumarsono dikalangan pecinta batik memang sudah sangat dikenal, setelah..
Jakarta Pusat - 3 hari yang lalu

Mengusung Konsep Kekinian, Pameran Kain “Adiwastra Nusantara 2019” Resmi Dibuka

POROSJAKARTA.COM, SEMANGGI - Pameran kain adipati terbesar di Indonesia, Adiwastra Nusantara 2019 resmi dibuka pada..
Nusantara - 4 hari yang lalu

Tokoh Perempuan Papua, Yakoba Lokbere Prihatin Melihat Sisi Kemanusiaan Kasus Nduga

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Tokoh perempuan Papua, Yakoba Lokbere merasa prihatin atas dampak yang terjadi dari..
Musik - 4 hari yang lalu

KOMPILADUT, Album Dangdut Para Penyanyi Jebolan Ajang Pencarian Bakat

POROSJAKARTA.COM, CIDENG - Banyak talent penyanyi dangdut berkualitas terlahir di acara ajang pencarian bakat...
Nusantara - 5 hari yang lalu

Jalan-jalan di Sentani Masih Digenangi Air

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Jalan-jalan di Sentani Kabupaten Jayapura masih digenangi air. Lumpur yang terbawa dari..
Nusantara - 6 hari yang lalu

Banjir Bandang Sentani, Pengungsi Masih Trauma Kembali ke Rumah

POROSJAKARTA.COM, JAYAPURA - Banjir bandang yang menerjang Sentani, Kabupaten Jayapura Papua yang menewaskan  77..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close