Sabtu, 19 Januari 2019 WIB

Ini Cerita Dubes RI, Konflik Suriah Bukan Jihad, Tapi Politik

Oleh : Abuzakir Ahmad | Sabtu, 03 Nopember 2018 | 08:31 WIB


Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto diwawancara media usai Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia" di Grand Kemang Jakarta Selatan, Kamis (1/10). 9Foto: PJ/ Zaki)

POROSJAKARTA.COM, KEMANG - Duta Besar RI untuk Suriah Djoko Harjanto, bercerita, konflik di Suriah itu tentu membingungkan karena Suriah itu jaraknya sangat jauh. Tetapi sebagai utusan khusus Dubes RI yang mewakili 265 juta jiwa penduduk Indonesia hanya menyampaikan fakta.

Kata dia,  konflik Suriah merupakan gelombang dari "Arab Stream" yang pertama itu Tunisia. Kedua Mesir, kemudian Libya.  Presiden Libya terbunuh yang disasar oleh negara-negara barat dan sekutu-sekutunya terutama Isreal menjatuhkan Presiden Bashar al Assad mereka, pemberontak prediksi tiga bulan harus jatuh.

Akan tetapi, Bashar al Assad hingga kini,  7 tahun tidak jatuh. Dia bersyukur kalau reformasi di Indonesia, jatuhnya Soeharto dengan cara mengundurkan diri, dimohon turun dengan legowo.

"Berbeda di negara Arab, presidennya  turun itu bukan perang, tapi dibunuh, seperti terjadi di Tunisia, Libya dan di Yaman. Itu harus dipahami dulu, "ujar Djoko pada Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia di Grand Kemang, Jaksel, Kamis (1/10/2018).

(Ki-Ka) Rahma Sarita, Ust.Harimi Makmun, Syekh Adnan al-Afyouni, Djoko Haryanto, Ahsin Mahrus, Ainul Rofiq pada Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia" di Grand Kemang, Kamis (1/10). (Foto: PJ/Zaki)

Pada Maret 2011, saat itu Djoko masih di Konsul Jenderal di Malaysia Serawak. Gelombang demontrasi damai dengan yel-yel reformasi berakhir dengan  konflik.

Kejadian pada demonstrasi tersebut, ada pihak-pihak oposisi yang mendapatkan senjata, hingga merambah kemana-mana. Mereka menamakan diri "Free Army".

"Free Army" itu tentara perang yang tidak mendukung rezim pemerintah. Mereka mempengaruhi masyarakat dengan memberikan senjata, tanpa ada pendidikan seperti layaknya militer, latihan perang, berlari, tiarap dan lain sebagainya. Intinya, angkat senjata menjadi "Free Army".

Kemudian Front Al-Nusra atau yang juga dikenal dengan Alqaidahnya Suriah, tapi untuk Suriah Jabhat Al-Nusra sampai sekarang namamya ganti-ganti terus.

Pada tahun 2013, muncul ISIS (Islamic State in Iraq and Syria). Munculnya gerakan ISIS membuat orang takjub dan tertarik, hingga ada yang terbius untuk bergabung.

Munculnya gerakan ISIS saat dirinya menjabat sebagai Dubes RI untuk Suriah tepat pada 2014. Saat itu memasuki masa perang. Tugasnya paling utama sebagai Duta Besar untuk melindungi warga Indonesia, seperti TKI, mahasiswa, pelajar dan staf kedutaan.

Dukungan dari AS, Isreal, dari negara-negara Uni Eropa, negara tetangga Turki, Yordiania ikut memusuhi, sehingga wilayah Suriah itu tinggal sedikit.

Pada tahun 2015, Djoko sudah masuk di Aleppo, bukan karena dia berani. Namun  karena ada TKI yang membutuhkan perlindungan diwilayah tersebut.

"Jadi, Bismillah saja. Di Aleppo, setiap hari perang. Tidak semenit pun berhenti itu mortir, senapan, AK47 dan bom ysng terus menghacurkan kantor pemeritahan, "katanya.

Pemerintah juga menggempur lokasi persembunyian para oposisi bersenjata. Hingga Gubermur Aleppo mengatakan wilayah pemerintah itu tinggal 20 persen.

Pada 30 September 2015 Rusia masuk,  pemberontakan dibanyak negara membuat pemerintah ingin mempertahankan diri. Makanya Suriah  mengundang Rusia ikut bergabung. Itu diumumkan di forum  PBB di New York AS,  untuk membantu  memulihkan kedualatan Suriah.

Kehadiran Rusia ke Suriah  hampir tidak ada yang protes. Rusia kemudian menyerang lewat udara. Tentara pemerintah Suriah dibantu oleh dewan dengan milisinya tinggal di Libanon, yakni Hisbullah.

Peperangan berlangsunh lama menyebabkan banyak korban antara 500-600 ribu orang. Tapi, Djoko meyakini, faktanya lebih dari itu karena ada yang dirahasiakan.

Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan Rusia dan tentara pemerintah makin kuat, Suriah bisa mrngambil alih wilayah demi wilayah yang  dikuasai oleh pemberontak seperti Madani, Madaya dan lainnya.

Lalu pada 2017, Aleppo pun bisa dikuasai oleh pemerintah sehingga yang namanya ISIS itu secara kasat mata, pemberitaan, itu sudah dipinggirkan. Tapi, bukan tidak ada lagi, ISIS masih ada di Raka.

"Tetapi di Aleppo sudah bersih karena saya bulan Mei kemarin (2018) ikut pameran Internasional di Aleppo. Itu cepat sekali. Sudah bersih. Tidak kayak dulu," ceritanya.

Sebenarnya, perang terjadi di Suriah bukan perang jihad, tapi melainkan persoalan politik. Konspirasi dari persekongkolan Barat dan Israel untuk menjatuhkan pemerintah Suriah.

Pemeritahnya juga ingin dibantu oleh luar negeri utamanya Rusia. Secara militer China mendukung. Dari segi ekonomi Suriah dikuasai oleh China. Karena embargo, barang Jerman, seperti  mobil untuk kedutaan pun tidak bisa dibeli.

Di Sana (Suriah) itu ada Syiah ada Sunni tetapi kalau disampaikan, sebenarmya Syiah dan  Sunni itu tidak bertikai. Sholat di Masjid itu tidak apa-apa. Tidak ada salah satu kelompok yang langsung ngepel jejak kaki di Masjid, seperti yang diisyukan selama ini.Pemerintah Suriah sekarang sudah mengusai hampir 80 persen wilayah.

Perdamain demi perdamaian itu diupayakan, akan tetapi lima negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa China, Perancis, Rusia, Britania Raya (Inggeris) dan Amerika Serikat), kalau ada yang mendukung Suriah nanti akan dapat "hak veto" Amerika.

"Jadi, saya sebagai Duta Besar RI untuk Suriah yang sebentar lagi berakhir. Terima kasih buat Suriah," pungkas Djoko. [PJ/Abuzakir Ahmad]


Komentar


Jakarta Pusat - 1 hari yang lalu

Jika Gagal Revisi PP, Perangkat Desa Bakal Polisikan Presiden

POROSJAKARTA.COM, MENTENG – Sudir Santoso selaku kuasa hukum Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) akan..
Jakarta Pusat - 1 hari yang lalu

Astari Indah Vernideani Juara Miss Tourism Internasional 2018-2019

POROSJAKARTA.COM, GAMBIR - Masyarakat Indonesia tentu merasa bangga atas torehan gemilang yang diraih oleh Putri..
Jakarta Timur - 2 hari yang lalu

Pejabat Militer Asli Papua Sangat Dibutuhkan di Pedalaman Papua

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Sudah saatnya Jabatan-jabatan strategis militer di Papua diutamakan dijabat oleh prajurit..
Jakarta Pusat - 2 hari yang lalu

Pertamina, PTBA dan Air Products Sepakati Bentuk Joint Venture Clean Energy

POROSJAKARTA.COM, TANAH ABANG - PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan "Air Product and Chemicals Inc"..
Jakarta Pusat - 2 hari yang lalu

Yusuf Makuta : Kedatangan Jokowi ke Gorontalo Dapat Mendongkrak Suara PDIP

POROSJAKARTA.COM, KEMAYORAN - Pileg dan Pilpres makin dekat, tentu saja kampanye dan konsolidasi partai atau caleg..
Film - 3 hari yang lalu

Film “Cinta Anak Negeri” Sajikan Pesan Moral Persatuan dan Toleransi

POROSJAKARTA.COM, MANGGA BESAR– Sambut pesta demokrasi pada 17 April mendatang, Padma Film Produdction dan..
Jakarta Utara - 3 hari yang lalu

Reses di Lodan Ancol, Steven Setiabudi Musa Infokan Pada Warga Jumlah Penerima Lansia Akan Ditambah

POROSJAKARTA.COM - ANCOL - Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Steven Setiabudi Musa,..
Khas - 3 hari yang lalu

KBRI Suva Sambangi Camp TKI di Nadi, Fiji

POROSJAKARTA.COM - Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kepulauan Fiji di Suva,..
Jakarta Utara - 3 hari yang lalu

Reses di Pademangan Timur, Steven Setiabudi Musa Ingatkan Warga Agar Manfaatkan Fasilitas Pemerintah

POROSJAKARTA.COM, PADEMANGAN - Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Steven Setiabudi Musa,..
Jakarta Utara - 4 hari yang lalu

Ibu Ida, Warga Warakas Tersenyum, Himpitan Ekonomi Mendapat Jawaban Positif dari Anggota DPRD DKI Steven Setiabudi Musa

POROSJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK -  Salah satu warga Warakas, Ibu Ida (34) boleh bernapas lega. Permasalahan..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close