Rabu, 21 Agustus 2019 WIB

Ini Cerita Dubes RI, Konflik Suriah Bukan Jihad, Tapi Politik

Oleh : Abuzakir Ahmad | Sabtu, 03 Nopember 2018 | 08:31 WIB


Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto diwawancara media usai Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia" di Grand Kemang Jakarta Selatan, Kamis (1/10). 9Foto: PJ/ Zaki)

POROSJAKARTA.COM, KEMANG - Duta Besar RI untuk Suriah Djoko Harjanto, bercerita, konflik di Suriah itu tentu membingungkan karena Suriah itu jaraknya sangat jauh. Tetapi sebagai utusan khusus Dubes RI yang mewakili 265 juta jiwa penduduk Indonesia hanya menyampaikan fakta.

Kata dia,  konflik Suriah merupakan gelombang dari "Arab Stream" yang pertama itu Tunisia. Kedua Mesir, kemudian Libya.  Presiden Libya terbunuh yang disasar oleh negara-negara barat dan sekutu-sekutunya terutama Isreal menjatuhkan Presiden Bashar al Assad mereka, pemberontak prediksi tiga bulan harus jatuh.

Akan tetapi, Bashar al Assad hingga kini,  7 tahun tidak jatuh. Dia bersyukur kalau reformasi di Indonesia, jatuhnya Soeharto dengan cara mengundurkan diri, dimohon turun dengan legowo.

"Berbeda di negara Arab, presidennya  turun itu bukan perang, tapi dibunuh, seperti terjadi di Tunisia, Libya dan di Yaman. Itu harus dipahami dulu, "ujar Djoko pada Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia di Grand Kemang, Jaksel, Kamis (1/10/2018).

(Ki-Ka) Rahma Sarita, Ust.Harimi Makmun, Syekh Adnan al-Afyouni, Djoko Haryanto, Ahsin Mahrus, Ainul Rofiq pada Seminar Kebangsaan "Jangan Suriahkan Indonesia" di Grand Kemang, Kamis (1/10). (Foto: PJ/Zaki)

Pada Maret 2011, saat itu Djoko masih di Konsul Jenderal di Malaysia Serawak. Gelombang demontrasi damai dengan yel-yel reformasi berakhir dengan  konflik.

Kejadian pada demonstrasi tersebut, ada pihak-pihak oposisi yang mendapatkan senjata, hingga merambah kemana-mana. Mereka menamakan diri "Free Army".

"Free Army" itu tentara perang yang tidak mendukung rezim pemerintah. Mereka mempengaruhi masyarakat dengan memberikan senjata, tanpa ada pendidikan seperti layaknya militer, latihan perang, berlari, tiarap dan lain sebagainya. Intinya, angkat senjata menjadi "Free Army".

Kemudian Front Al-Nusra atau yang juga dikenal dengan Alqaidahnya Suriah, tapi untuk Suriah Jabhat Al-Nusra sampai sekarang namamya ganti-ganti terus.

Pada tahun 2013, muncul ISIS (Islamic State in Iraq and Syria). Munculnya gerakan ISIS membuat orang takjub dan tertarik, hingga ada yang terbius untuk bergabung.

Munculnya gerakan ISIS saat dirinya menjabat sebagai Dubes RI untuk Suriah tepat pada 2014. Saat itu memasuki masa perang. Tugasnya paling utama sebagai Duta Besar untuk melindungi warga Indonesia, seperti TKI, mahasiswa, pelajar dan staf kedutaan.

Dukungan dari AS, Isreal, dari negara-negara Uni Eropa, negara tetangga Turki, Yordiania ikut memusuhi, sehingga wilayah Suriah itu tinggal sedikit.

Pada tahun 2015, Djoko sudah masuk di Aleppo, bukan karena dia berani. Namun  karena ada TKI yang membutuhkan perlindungan diwilayah tersebut.

"Jadi, Bismillah saja. Di Aleppo, setiap hari perang. Tidak semenit pun berhenti itu mortir, senapan, AK47 dan bom ysng terus menghacurkan kantor pemeritahan, "katanya.

Pemerintah juga menggempur lokasi persembunyian para oposisi bersenjata. Hingga Gubermur Aleppo mengatakan wilayah pemerintah itu tinggal 20 persen.

Pada 30 September 2015 Rusia masuk,  pemberontakan dibanyak negara membuat pemerintah ingin mempertahankan diri. Makanya Suriah  mengundang Rusia ikut bergabung. Itu diumumkan di forum  PBB di New York AS,  untuk membantu  memulihkan kedualatan Suriah.

Kehadiran Rusia ke Suriah  hampir tidak ada yang protes. Rusia kemudian menyerang lewat udara. Tentara pemerintah Suriah dibantu oleh dewan dengan milisinya tinggal di Libanon, yakni Hisbullah.

Peperangan berlangsunh lama menyebabkan banyak korban antara 500-600 ribu orang. Tapi, Djoko meyakini, faktanya lebih dari itu karena ada yang dirahasiakan.

Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan Rusia dan tentara pemerintah makin kuat, Suriah bisa mrngambil alih wilayah demi wilayah yang  dikuasai oleh pemberontak seperti Madani, Madaya dan lainnya.

Lalu pada 2017, Aleppo pun bisa dikuasai oleh pemerintah sehingga yang namanya ISIS itu secara kasat mata, pemberitaan, itu sudah dipinggirkan. Tapi, bukan tidak ada lagi, ISIS masih ada di Raka.

"Tetapi di Aleppo sudah bersih karena saya bulan Mei kemarin (2018) ikut pameran Internasional di Aleppo. Itu cepat sekali. Sudah bersih. Tidak kayak dulu," ceritanya.

Sebenarnya, perang terjadi di Suriah bukan perang jihad, tapi melainkan persoalan politik. Konspirasi dari persekongkolan Barat dan Israel untuk menjatuhkan pemerintah Suriah.

Pemeritahnya juga ingin dibantu oleh luar negeri utamanya Rusia. Secara militer China mendukung. Dari segi ekonomi Suriah dikuasai oleh China. Karena embargo, barang Jerman, seperti  mobil untuk kedutaan pun tidak bisa dibeli.

Di Sana (Suriah) itu ada Syiah ada Sunni tetapi kalau disampaikan, sebenarmya Syiah dan  Sunni itu tidak bertikai. Sholat di Masjid itu tidak apa-apa. Tidak ada salah satu kelompok yang langsung ngepel jejak kaki di Masjid, seperti yang diisyukan selama ini.Pemerintah Suriah sekarang sudah mengusai hampir 80 persen wilayah.

Perdamain demi perdamaian itu diupayakan, akan tetapi lima negara anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa China, Perancis, Rusia, Britania Raya (Inggeris) dan Amerika Serikat), kalau ada yang mendukung Suriah nanti akan dapat "hak veto" Amerika.

"Jadi, saya sebagai Duta Besar RI untuk Suriah yang sebentar lagi berakhir. Terima kasih buat Suriah," pungkas Djoko. [PJ/Abuzakir Ahmad]


Komentar


Seleberita - 1 hari yang lalu

Hilangkan Double Chin Lebih Tepat Sasaran dengan MedikPro Ultherapy Treatment

POROSJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk memproduksi kolagen akan semakin..
Metro - 3 hari yang lalu

Pagelaran Budaya dan Festival Kuliner Etnik Nusantara untuk Silaturahmi

Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi DKI Jakarta, menghelat Pagelaran Budaya dan Festival Kuliner Etnik Nusantara, yang akan berlangsung di Areal Monas Jakarta, Lenggang Jakarta, IRTI Monas, pada tanggal 23 -25 Agustus 2019.
Jakarta Timur - 5 hari yang lalu

Meriahkan HUT RI ke-74, SMA Negeri 42 Jakarta Gelar Karnaval Budaya

POROSJAKARTA.COM, MAKASAR - SMA Negeri 42 Jakarta Timur menggelar karnaval dan berbagai agenda perlombaan dalam..
Etalase - 5 hari yang lalu

Beli BBM di Pertamina Lebih Praktis Pakai e-Voucher Ezeelink

POROSJAKARTA.COM, SETIABUDI– Untuk menghadirkan transaksi digital, PT Pertamina menggendeng aplikasi Ezeelink..
Jakarta Timur - 5 hari yang lalu

Siswa Siswi SDN Makasar 01 Jakarta Semangat Ikut Pawai Kemerdekaan

POROSJAKARTA.COM, MAKASAR - Semarakkan Dirgahayu ke-74 Republik Indonesia, Sekolah Dasar Negeri Makasar 01 Pagi..
Bodetabek - 6 hari yang lalu

BMKG: Cuaca Jakarta Hari Jumat Cerah Berawan

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memrediksi cuaca di Ibu Kota Jakarta..
Jakarta Timur - 6 hari yang lalu

Meriahkan HUT RI Ke-74, SDN Makasar 01 Jakarta Gelar Beragam Perlombaan

POROSJAKARTA.COM, MAKASAR - Dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 tahun 2019, SD Negeri..
Jakarta Timur - 6 hari yang lalu

Laksanakan Pleno di Jayapura, Berius Kogoya, KPUD Melukai Perasaan Masyarakat Memberamo Tengah

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Gagal melaksanakan pleno di Kabagma, Ibukota Kabupaten Memberamo Tengah, KPUD memaksakan..
Arena - 1 minggu yang lalu

Makin Eksis, Pengurus Pengkot ABTI Jaktim Diterima KONI Jakarta Timur

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Tampaknya cabang olahraga bola tangan semakin eksis di DKI Jakarta. Setelah diterima..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

Situasi Memberamo Tengah Mencekam, Bupati Tidak Berani Masuk Ibukota Kobakma Usai Keputusan MK

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Situasi Kabupaten Memberamo Tengah saat ini mencekam usai keputusan Mahkamah Konstitusi..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close