Minggu, 24 Maret 2019 WIB

Wetipo, Pembakar Bendera OPM : Saya Ingatkan OPM Tidak Boleh Berpikir Referendum di Tanah Papua

Oleh : Mike Wangge | Selasa, 06 Nopember 2018 | 06:02 WIB


(Foto: PJ/ Mike Wangge) Stefanus Sebo Wetipo

POROSJAKARTA.COM, CAWANG  - Dua tahun bukan waktu  yang lama untuk  begitu saja melupakan peristiwa pembakaran bendera Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Komite  Nasional Papua Barat (KNPB) pada bulan Mei tahun 2016.

Pelaku utama dan penggerak pembakar bendera terlarang di NKRI itu adalah Stefanus  Sebo Wetipo (46 tahun). Dia menggerakkan generasi muda di Tanah Papua  untuk melakukan  dua hal  penting demi stabilitas naisonal di ujung timur Indonesia ini.

Pertama adalah  melakukan gerakan bersifat represif  untuk menolak semua model separatisme seperti OPM, dan KNPB (Komite Nasional Papua Barat) di Tanah Papua. Itu merti terus dilakukan sekalipun harus dengan membakar simbol  atau bendera OPM, sebagaimana terjadi dua tahun lalu yakni pada tanggal 26 Mei 2016. Kedua, adalah,  membangun nasionalisme, menciptakan rasa keadilan secara ekonomi, politik dan sosial di tengah masyarakat.

Apakah separatisme di Papua masih terus menggeliat? Wetipo menjawab, kelompok – kelompok tersebut masih ada dan secara masif bisa diikuti di media-media yang mereka gunakan di era teknologi komunikasi sekarang ini. Dia menjelaskan bahwa separatisme itu lahir  pada setiap ketimpangan sosial di segala zaman di seluruh dunia.

Karena itu tambah Wetipo, upaya pendekatan sosial kemasyarakatan terutama melalui pendekatan budaya amat dibutuhkan, di samping pendekatan distribusi ekonomi yang bersifat bantuan kemanusiaan, perlu diutamakan.

Sebab, menurut Wetipo, penggerak masyarakat pedesaan di Papua ini mengatakan,  pada dasarnya, paham atau ide  separatisme selalu  lahir dari rasa keadilan yang belum terpenuhi. Sementara untuk memenuhi rasa adil itu kadang wujud fisiknya tidak sesuai dengan kehendak.

Karena itu, dalam posisi seperti ini, Wetipo, selaku  penggerak masyarakat pedesaan melalui PKRI (Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia) di Papua turun langsung di kampung-kampung untuk membaca dan memahami bentuk atau  model keadilan yang di harapkan, dan lalu berusaha menerjemahkan persoalan keadilan itu sesempurna mungkin menurut daya pikir masyarakat pedesaan.

Harapannya adalah agar persoalan keadilan bisa diwujudkan dengan tepat dalam implementasinya. Baik implementasi dalam kebijakan material seperti Infrastruktur , maupun yang non material seperti pola pendekatan kebijakan yang sesuai dengan kondisi sosial dan karakter nya.

“Itu yang kami utamakan. Selain juga mulai memberi pemahaman, bahwa prinsip kemerdekaan kita sebagai bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama adalah sudah final sejak jauh sebelum Proklamasi 1945 itu ada. Yaitu kesepakatan kepala suku dan sejarah kesepahaman nenek-moyang Papua dalam usaha menjadi INDONESIA,” sebut Stefanus Sebo Wetipo.

Dia juga mengingatkan kepada kaus separatism di Papua bahwa ideolog1 lain di luar NKRI tidak boleh ada di Tanah Papua. Karena itu organisasi OPM, termasuk KNPB tidak boleh ada dalam bentuk aksi apapun di Tanah Papua.  Dia juga mengatakan bahwa separatisme di Papua itu harus dibaca dengan cara yang berbeda, bukan nyata untuk sebuah kemerdekaan dalam arti sebuah state, tetapi kumpulan-kumulan yang melawan karena ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Tetapi karena sungguh bertentangan,   jadi perlu selalu dilawan, dan pihaknya siap melakukan perlawanan terhadap  semua bentuk separatisme di Papua. [PJ/ Mike Wangge]

Stefanus  Sebo Wetipo (Foto: PJ/ Mike Wangge)

 


Komentar


Nusantara - 6 jam yang lalu

Binmas Noken Polri Hadir di Tengah Para Korban Banjir Sentani

POROSJAKARTA.COM, SETANI - Satu Minggu lamanya banjir bandang menerjang Santani dan Kota Jayapura menyebabkan 112..
Seleberita - 1 hari yang lalu

Titi Kamal Langsung Jatuh Cinta ‘Rumput Tetangga’

POROSJAKARTA.COM - Titi Kamal sebagai artis papan atas dan berpengalaman, sangat hati-hati dalam setiap menerima..
Nusantara - 2 hari yang lalu

150 Unit Rumah Untuk Para Veteran, Pejuang Trikora dan Kepala Suku Tahun 2019 di Papua

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Ketua PKRI (Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia) Stevanus Wetipo menyampaikan ucapan..
Nusantara - 2 hari yang lalu

Rapat Koordinasi PKRI Bersama Kasatker Penyedia Perumahan di Papua

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Dalam rangka pelaksanaan membangun 12.000 unit perumahan di Papua pada tahun 2019, Kepala..
Jakarta Pusat - 3 hari yang lalu

“Batik Sudagaran Surakarta” Karya Hartono Sumarsono Mengulas Batik Luar Keraton

POROSJAKARTA.COM, SEMANGGI - Nama Hartono Sumarsono dikalangan pecinta batik memang sudah sangat dikenal, setelah..
Jakarta Pusat - 3 hari yang lalu

Mengusung Konsep Kekinian, Pameran Kain “Adiwastra Nusantara 2019” Resmi Dibuka

POROSJAKARTA.COM, SEMANGGI - Pameran kain adipati terbesar di Indonesia, Adiwastra Nusantara 2019 resmi dibuka pada..
Nusantara - 4 hari yang lalu

Tokoh Perempuan Papua, Yakoba Lokbere Prihatin Melihat Sisi Kemanusiaan Kasus Nduga

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Tokoh perempuan Papua, Yakoba Lokbere merasa prihatin atas dampak yang terjadi dari..
Musik - 4 hari yang lalu

KOMPILADUT, Album Dangdut Para Penyanyi Jebolan Ajang Pencarian Bakat

POROSJAKARTA.COM, CIDENG - Banyak talent penyanyi dangdut berkualitas terlahir di acara ajang pencarian bakat...
Nusantara - 5 hari yang lalu

Jalan-jalan di Sentani Masih Digenangi Air

POROSJAKARTA.COM, SENTANI - Jalan-jalan di Sentani Kabupaten Jayapura masih digenangi air. Lumpur yang terbawa dari..
Nusantara - 6 hari yang lalu

Banjir Bandang Sentani, Pengungsi Masih Trauma Kembali ke Rumah

POROSJAKARTA.COM, JAYAPURA - Banjir bandang yang menerjang Sentani, Kabupaten Jayapura Papua yang menewaskan  77..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close