Selasa, 07 April 2020 WIB

UYM Pernah Diberitakan Beli Saham Bank Muamalat, BRI Syariah, dan Tempo, Apa Kabarnya Sekarang?

Oleh : Aqila Zafira | Jumat, 26 Juli 2019 | 21:48 WIB



Oleh: HM Joesoef

Ada fenomena menarik yang terjadi di Gedung Muamalat Tower di Jalan Prof. Dr. Satrio, Kuningan, Setia Budi, Jakarta Selatan, lantai 20 pada Rabu 28 Februari 2018 lalu, ratusan member PayTren dan santri Darul Quran di bawah komando Ustad UYM (UYM) buka rekening ‘massal’ lantaran Bank syariah pertama di Indonesia itu mengalami kesulitan keuangan.

Momentum ini dimanfaatkan UYM dengan mendatangkan pasukan PayTren, Darul Quran, dan siapa saja yang bersimpati untuk ramai-ramai membuka rekening tabungan di Bank Muamalat. Langkah selanjutnya, UYM akan membeli sebagian saham bank tersebut. Namun faktanya, UYM tidak jadi membeli sebagian saham Bank Muamalat itu.

Gagal memborong saham di bank Muamalat, UYM melirik BRI Syariah. Pada Rabu (9/05/2018) BRI Syariah resmi menjual sahamnya di pasar modal dengan melepas 2,62 miliar saham baru (27 persen) dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Munculnya UYM lagi-lagi bikin heboh jagad media di negeri ini. Berbagai judul bombastis dihadirkan, seperti, “Yusuf Mansur Membeli BRIS”, dan lain-lain. Berita tersebut cepat menyebar di berbagai media sosial. Para pengikutnya pun mendukung dengan berbagai argumen lengkap.

Dalam kasus pembelian BRI Syariah, UYM membeli atas nama individu, Koperasi Indonesia Berjamaah (Kopindo) dan Paytren Aset Manajemen. Untuk pebelian saham ini, UYM masuk di segmen ritel dengan kontrak pengelolaan dana (KPD), yang besarnya hanya satu persen dari total dana Rp 1,3 triliun.

Saham yang dijual hanya Rp. 13 milyar yang dibeli oleh 6037 pihak. Ya, UYM hanyalah 1 dari 6037 pembeli. Jika dibagi rata, masing-masing hanya bisa membeli saham dengan nilai Rp. 2.153.387. Tentu saja, ini adalah angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan pemberitaannya yang bombastis di berbagai media.

Setelah bank Muamalat dan BRI Syariah, pada 8 Agustus 2018 UYM membuat kejutan baru ketika PayTren meneken kerjasama dengan PT Info Media Digital, pengelola portal berita Tempo.co.

UYM pun menuturkan, bahwa, "PayTren bersemangat untuk ikut memiliki Tempo, bukan sekadar menikmati sajian beritanya. Enggak ditawarin aja, kita harus nanya, bisa enggak ikut memiliki? Ya, bismillah," katanya. Dikabarkan juga bahwa UYM akan membeli 5 % dari saham Tempo dengan nilai Rp 27 Milyar.

“Tempo melihat PayTren sebagai komunitas dari berbagai kalangan, bukan hanya para orang tua, pekerja, bahkan berisi orang-orang muda yang dinamis dan mengembangkan diri dengan kemampuan berjejaring yang kuat. Semangat mengubah keadaan menjadi lebih baik itu terlihat jelas pada diri pemimpinnya, Ustad Yusuf Mansur,” kata Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Toriq Hadad saat meneken nota kerja sama, waktu itu.

Rupanya, kerjasama tersebut baru sebatas meneken tandatangan. Belakangan, menurut UYM, pembelian saham itu sifatnya penawaran kepada jamaah. Jika jamaah berkenan, ya jadi, jika tidak ada respon, ya tidak jadi.

Dari tiga pembelian diatas, Bank Muamalat, BRI Syariah, dan Tempo, hanya BRI Syariah yang berhasil. Itu pun jumlahnya sangat kecil, sebagaimana tersebut di atas. Para anggota PayTren pun enggan ikut-ikutan membeli saham. Boleh jadi pengalaman dengan bank Muamalat membuat mereka belajar lebih banyak lagi.

Dalam kasus Bank Muamalat, komunitas UYM hanya sebatas membuka rekening. Tidak lebih dari itu. Itu pun nasibnya sekarang tdak jelas. Bisa jadi mereka membuka rekening, lalu diam, sama dengan kebanyakan orang, hanya punya nomor rekening saja. Tak lebih dari itu.

Ketika ditanya mengapa gagal membeli saham di Muamalat? Ia menjawab. “Bukan karena kitanya, tapi karena faktor yang ada di Bank Muamalat,” jawabnya, enteng, tanpa beban.

Adapun pembelian saham Tempo, menurut UYM, itu sifatnya penawaran kepada jamaah. Jika jamaah merespon, ya jadi, jika tidak merespon, ya gagal.

Semua pemberitaan tentang bank muamalat, BRI Syariah maupun Tempo, membuat jagad media heboh. Semua media memberitakan secara bombastis. Tapi, media di Indonesia tidak mengawal pemberitaannya secara cermat. Baik dalam kasus bank Muamalat, BRI Syariah maupun Tempo, pemberitaan awal heboh. Kelanjutannya tak ada beritanya.

Inilah yang tidak banyak orang tahu tentang kelanjutan berita-berita awal yang heboh itu. Dalam kasus bank Muamalat, jelas gagal. Dalam kasus BRI Syariah, tidak signifikan, dalam kasus Tempo sama saja.

Tempo, sebagaimana media-media lainnya, hanya memberitakan pembelian saham itu sekali. Itu pun di awal MoU. Setelah itu, tidak ada lagi beritanya. Para pimpinan Tempo pun tidak ada yang berkomentar lebih lanjut. Boleh jadi, kali ini omongan UYM benar, “sifatnya penawaran kepada jamaah.”

Rupanya gayung tak bersambut. Tempo bukanlah bacaan jamaahnya UYM. Bukan juga bacaannya orang-orang PayTren. Karena itu wajar jika mereka tidak merespon ajakan UYM.

Rencana boleh gagal. Tetapi nama UYM tetap moncer. Ia menang di start, kedodoran di finish. Ia pandai memanfaatkan media yang rata-rata hanya memberitakan di start, tidak pernah mengawal beritanya sampai finish.

UYM memang pandai mem-branding dirinya. Tapi, satu hal yang ia lupa, kebohongan lambat laun akan terbuka tabirnya.[]

*Penulis adalah wartawan senior

 


Komentar


Bodetabek - 2 jam yang lalu

Ketua DPR Apresiasi Jokowi tentang Kawal Distribusi APD (Alat Pelindung Diri) Agar Tepat Sasaran

Porosjakarta.com, Senayan - DPR-RI mengapresiasi pernyataan Presiden Joko Widodo yang sudah menekankan bahwa..
Televisi - 2 hari yang lalu

KPID Se-Indonesia: Kriminalisasi LPB dengan UU ITE, Tidak Sah!

Porosjakarta.com, Gambir - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Se-Indonesia menyatakan bahwa Lembaga Penyiaran..
Jakarta Barat - 3 hari yang lalu

Pakar Hukum Media: Vonis PN Jakarta Barat terhadap Ninmedia Keliru

Porosjakarta.com, Slipi -  Putusan majelis hakim PN Jakarta Barat yang menjatuhkan vonis kepada Dirut PT..
Bodetabek - 4 hari yang lalu

Mendesak, Menkes Didorong Segera Buat Juklak & Juknis Pembatasan Sosial Berskala Besar

JAKARTA,- Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin *mengapresiasi* kebijakan Presiden Joko Widodo yang mengambil langkah..
Televisi - 4 hari yang lalu

Pakar Hukum Pidana: Lembaga Penyiaran Ninmedia Tidak Dapat Dipidana Menggunakan UU ITE

porosjakarta.com, Gambir -  Pakar Hukum Pidana dari UNPAD, Nella Sumika Putri, menilai vonis hakim PN Jakarta..
Televisi - 1 minggu yang lalu

Pengamat Hukum Siber menyayangkan Vonis PN Jakbar terhadap Ninmedia yang abaikan pendapat Ahli ITE dan Kemenkominfo

Porosjakarta.com, Gambir -Teguh Arifiyadi sebagai Pengamat Hukum Siber menghormati putusan majelis hakim PN Jakarta..
Televisi - 1 minggu yang lalu

ICTA dan GOTV Kabel Protes Putusan PN Jakbar Soal Ninmedia

Porosjakarta.com, Gambir -Sekretaris Jenderal Indonesia Cable TV Association (ICTA) Mulyadi Mursali dan Sekretaris..
Televisi - 1 minggu yang lalu

KPID: Lembaga Penyiaran Berlangganan berizin telah Bantu Masyarakat Daerah akses informasi

Porosjakarta.com, Surabaya - Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Timur, Joshua..
Televisi - 1 minggu yang lalu

Ahli Hukum Komunikasi dan Teknologi Informasi dan Ahli Hukum Media: Undang-Undang ITE hadir bukan untuk mengatur Penyiaran

Jakarta –Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mulai digunakan untuk menjangkau penyiaran telah..
Jakarta Utara - 3 minggu yang lalu

Warga Keluhkan Mobil Parkir Di Bahu Jalan Pemukiman

  JAKARTA- Ibu rumah tangga banyak yang mengeluhkan adanya mobil-mobil pibadi yang parkir di depan rumah..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close
Close