Rabu, 28 Oktober 2020 WIB

Dokter Harun, 27 Tahun Mengabdi Olahraga, dari Standarisasi Medis Sampai Tangan Dingin Menyentuh Prestasi

Oleh : Mike Wangge | Minggu, 22 September 2019 | 11:30 WIB


(Foto: PJ/Mike Wangge)

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA – Hampir semua penggiat olahraga di Tanah Air – lebih khususnya di Jakarta - mengenal dengan baik sepak terjang dokter olahraga, dokter Harun Pardede (60). Apalagi di gulat, pencak silat, tinju, bola, dan begitu banyak cabor lainnya.

Penampilannya sangat sederhana, sering hanya mengenakan kaus, atau baju sederhana layaknya seperti orang-orang olahraga kebanyakan bukan seperti seorang dokter.

Duduk di antara para penggiat olahraga, dia lebih cocok disebut sebagai the inner circle of atlet, atau the second coach - asisten pelatih - karena lebih sering menjadi tempat bertanya para atlet untuk memecahkan kebuntuhan psikogi dalam hubungan atlet-pelatih dibadingkan profesinya sebagai sport medis. Kalau sport medis, mestinya sport medis plus oleh sentuhan psiko-medisnya.

Dalam bincang-bincang dengannya di sebuah warung kopi di sela-sela Pekan Olahrahraga Mahasiwa POMNas di GOR Cempak Putih, Kamis (18/9/2019) dokter Harun Pardede mengupas tentang pengalaman profesinya sebagai dokter olahraga selama kurang lebih 27 tahun sejak 1992. Berbagai pengalaman penting dilalui dokter Harun, dan pengalaman itu ada yang bisa menjadi pelajaran untuk para pelatih di Indonesia dalam menangani atlet, dan juga semua pihak dalam rangka memperbaiki kinerja sport medis ke depannya.

Beberapa contoh disebutkan dokter Harun. Ada pelatih sepakbola dari luar negeri, - tak usa disebutkan namanya, - dia mengharuskan salah satu pemain nasional sepakbola untuk pindah posisi. Selain di posisinya, dia harus pula ambil posisi yang lain, padahal di posisi itu sudah ada pemain yang jauh lebih hebat. Pemainnya nggak mau pindah, kekeh, nggak mau, karena tidak ingin bersaing dengan yang sudah ada, sementara pelatih juga demikian memaksa pemain harus pindah posisi, akhirnya nggak ketemu keinginan kedunya sebut dokter Harun.

 

Apa yang harus dilakukan? Di situ, kata dokter Harun, meski dia tugasnya sebagai dokter dia menjadi jembatan komunikasi untuk memecahkan kebuntuhan promblem psikolgi komuniasi antar-keduanya. Dia berbicara pada pemainnya dengan baik, menjelaskan tentang maksud sang pelatih yang berniat baik untuknya, lalu dia sampaikan ke pelatihnya, bahwa untuk pemain yang dimaksud, menyampaikan pesan kepadanya, mesti caranya demikian baru bisa ia terima, akhirnya, keinginan pelatih-pemain itu disambungkan dan jadi baik lalu berimbas pada membuat tim itu menang dan juara.

Jadi prestasi itu tidak sekadar lahir karena kaki pemain bola saja. Bukan juga hanya karena peran pelatih semata, seorang dokter olahraga plus yang lebih menangani psiko-medis seperti dokter Harun ini jauh lebih jitu sentuhannya untuk memoles prestasi meskipun perannya mungkin tak berarti atau diabaikan begitu saja.

Ada lagi pengalaman untuk yang juara Asian Games tahun kemarin di salah satu cabang olahraga. Kebetulan dokter Harun menjadi tim medisnya di sana. Kalau saja cedera terjadi pada atlet yang terjadi pada kejursnas sebelumnya tidak teratasi, pasti mimpi indah sang atlet meraih medali emas di Asian Games, kejuaraan dunia, dan SEA Games sirna, tak mungkin pernah mampir untuk selamanya dalam angan-angannya.

Waktu itu, saat kejurnas cabor itu, jelas dokter Harun, salah seorang atlet di nomor berpasangan mengalami cedera saat bertanding karena saat melempar pasangannya ke atas lalu jatuh karena keliru tangkap sehingga terjatuh dengan bagian punggung mengalami cederah cukup parah. Berdasarkan cedera yang dialami, dokter di rumah sakit menyarankan agar atlet bersangkutan berhenti berolahraga.

Ofisial, dan juga atlet bersangkutan berikut orang tuanya datang ke dokter Harun. Mereka meminta saran dokter Harun, bagaimana nasib anak ini, berdasarkan saran dokter dari rumah sakit. Semua seperti bisu, karena atlet dimaksud sangat diandalkan untuk SEA Games yang nanti akan berlangsung, juga kejuaraan dunia, dan apalagi untuk pertandingan Asian Games 2018 nanti.

Dokter Harun yang menyaksikan peristiwa cedera itu langsung di lapangan mencoba menganalisa peristiwanya. Dia seperti mereview kembali peristiwa di lapangan kemain, dan menganalisanya untuk kemudian memberikan diagnosa yang tepat bagi sang atlet dimaksud.

Apak kata dokter Harun? “Saya lihat si atlet ini bukan cedera tulang belakang,” sebut dokter Harun. Posisi jatuh, dan awal peristiwa cedera yang dilihatnya sendiri membuktikan bahwa atlet tersebut bukan cedera tulang, akan tetapi dia hanya mengalami cedera otot. Namun kesakitannya yang luar biasa yang gejalanya hampir sama seperti cedera tulang.

Dengan alat khusus yang dibelinya dari Korea waktu itu, dokter Harun memberi terapi padanya untuk beberapa bulan lamanya. Apa yang terjadi? Atlet bersangkutgan sembuh total, dan itulah yang membuat bendera Merah Putih berkibar bagi Indonesia, di arena SEA Games, Kejuaraan Dunia, dan terlebih lagi lagu Indonesia Raya berkumandang di arena Asian Games 2018 lalu dari atlet yang mengalami cedera itu.

Luar biasa bukan terapi dokter Harun. Itulah peran penting yang dilakukan oleh seorang dokter olahraga, dokter Harun yang dengan pengalamannya selama 27 tahun menangani olahraga dia mampu melihat apa yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Dalam bincang –bincang petang itu dengannya, dokter Harun selain mamaparkan pengalaman pahit-manis menangani olahraga di Indonesia, Iapun juga mengupas pula tentang pentingnya standarisasi sport medis di Indonesia. Menurut dokter Harun standarisasi penangangan medis olahraga – sport medis, dirasakan masih sangat jauh dari ideal meskipun diakui di sana-sini terus diupayakan untuk diperbaiki sampai saat ini.

Banyak sekali yang harus diperbiki bila kita berbicara tentang idealnya penanganan cedera olahraga di lapangan. Contoh, kata dokter Harun, ambulance, kita kebiasaan hanya menggunakan satu ambulance saja. Jarang menggunakan dua ambulance karena biaya dan sebagainya. Padahal, harusnya minimal dua ambulance.

Bagaimana kalau ada dua cedera yang membutuhkan ambulance, apa yang dapat dilakukan oleh tim dokter bila ada dua kejadian seperti itu.Yang satu butuh ambulance yang satunya butuh ambulance segera, apa mau ditinggal, nggak mungkin, sebut dokter Harun.

Ada model cedera yang semestinya mengharuskan ambulance masuk sampai mendekat pada arena pertandingan. Nah kalau sudah begitu disain arena pertandingan olahraga perlu melibatkan dokter olahrahga pada waktu mendisain awalnya agar mobil ambulance bisa masuk sampai di pinggir lapangan.Tidak hanya itu saja, masih banyak sekali yang semestinya perlu semua stake holder olahraga duduk bersama membicarakan lebih khusus tentang model ideal untuk standarisasi sport medis di Indonesia.

Menurut dokter Harun, semua cabang olahraga di Indonesia baru sepakbola – PSSI – yang sudah mempunyai standart spot medisnya dari FIFA. Ada juga tinju PP Pertina, dan tinju profesional, sudah punya standar sport medis.

Dia mengatakan hampir semua cabang olahraga di Indonesia umumnnya belum melakukan hal itu. Menurut dokter Harun harusnya masing-masing PP atau PB berupaya untuk melakukan standarisasi sport medis dengan masing-masing badan olahraga dunianya.

Lahir di Medan Sumatera Utara pada tahun 1959, dokter Harun tampaknya tidak kaget dengan dunia olahraga. Ayahnya, Pak Pardede adalah dosen ilmu faal di STO (Sekolah Tinggi Olahraga) Medan. Tahun 1963, ketika baru berusia 4 tahun, dokter Harun sudah harus menghirup udara olahraga yang segar di Senayan karena ayahnya memboyong semua keluarga ke Jakarta.

Orang tuanya, Pak Pardede, melanjutkan sekolah di STO Jakarta. Kalah itu, pesta olahraga Asia, Asian Games barus saja berlalu setahun, dan gema pesta olahraga Ganefo (Games of The New Emerging Force) buatan Soekarno menggeliat di sudut-sudut Jakarta.

Darah olahragapun mengalir begitu saja dalam nadi dokter Harun. Meskipun kemudian ia memilih menjadi dokter – mungkin karena ayahnya mengajar ilmu faal di STO Medan - tapi denyut nadi olahraga di sekitar Senayan mengalir deras dalam dadanya.

Rupanya suasana masa kecil itulah yang terekam dengan baik di otak kecilnya, membuat dokter Harun kecil tidak bisa memilih yang lain kecuali olahraga menjadi hobi dan bagian dari hidupnya hingga dewasa ini. Ketika ditanya mengapa memilih menjadi dokter olahraga ia menjawab, dari ‘sononya’ sudah begitu katanya.

Pengalaman lain yang unik, ia temui waktu masih di Medan. Ada seorang mahasiswa di STO Medan, namanya Sianturi, sekarang menjadi Ketua Binpres Pengprov PGSI (Persatuan Gulat Seluruh Indonesia) DKI Jakarta. Karena dia mahasiswa kedokteran, ayahnya Pardede menyerahkan kepadanya setumpuk kertas ujian ilmu Faal mahasiswa STO kepadanya.

“Itu kamu periksa dan beri nilai,” perintah ayahnya. “Siap, Pak” katanya.

Dokter Harun pun mulai memeriksa. Sampai pada satu nama dia berhenti. Ada nama Sianturi, lalu dia balik ke ayanya dan bertanya, “Pak,.. ini ada nama Sianturi, ula-ula kita, gimana ini”, tanya dokter Harun. Dijawab, “kasih nilai bagus itu, biar lulus dia.”

Maka luluslah Sianturi dari STO Medan. Lebih sepuluh tahun kemudian bertemulah dokter Harun dengan mahasiswa ayahnya bernama Sianturi ini di Jakarta.

“Eh... ini anaknya Pak Pardede yang dosen STO Medan itu kan?” tanya Sianturi, dijawab “Iya aku tahulah”, kata doker Harun sambil mengisahkan tentang kisah memeriksa lembaran ujian ilmu faal Sianturi sewaktu di STO Medan puluhan tahun silam itu. Tertawalah keduanya di suatu tempat di Jakarta dalam arena olahraga ketika mereka bertemu.

Keduanya akhirnya makin akrab bercengkrama dan bahkan jauh lebih akrab hingga hari ini.
Selamat dan terus berbakti dokter Harun untuk dunia olahraga Indonesia. Semoga baktinya terus berdayaguna untuk masyarakat olahraga Indonesia khususnya para atlet yang terselamatkan dari cedera olahraga di masa yang akan datang.* [PJ/Mike Wangge]


Komentar


Jakarta Pusat - 4 jam yang lalu

Erick Thohir Ungkap Pertanyaan Menggelitik soal Vaksin Corona

POROSJAKARTA.COM, YOGYAKARTA - Pemerintah berupaya mendatangkan vaksin covid-19 ke tanah air. Menteri BUMN Erick..
Jakarta Barat - 1 minggu yang lalu

Kota Tua Menjadi Kota Mati  karena Pandemi COVID19

POROSJAKARTA.COM - Mendengar nama Kota Tua Jakarta Barat, identik dengan sepeda ontel, orang2 yang berpakaian seperti..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

JBMI Usulkan Megawati Dan Tuan Syekh Ibrahim Sitompul Sebagai Pahlawan Nasional

POROSJAKARTA.COM - Dewan Pimpinan Pusat Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (DPP JBMI) mengusulkan kepada..
Jakarta Pusat - 1 minggu yang lalu

Kemenkes: RI Dapat Kepastian Ketersediaan Vaksin Corona 9,1 Juta Orang di 2020

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan..
Sosok - 1 minggu yang lalu

Dr Naomi Netty Howay, Perempuan Inspiratif Datang dari Timur

POROSJAKARTA.COM – Pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

Penghentian Kasus Dugaan Politik Uang Pilkada Merauke Indikasi Politik Uang Masih Ada

POROSJAKARTA.COM – Penghentian kasus dugaan politik uang dalam pilkada Kabupaten Merauke karena alasan batas..
Arena - 1 minggu yang lalu

Kepergian Legenda Atletik Indonesia Eduardus Nabunome

POROSJAKARTA.COM – Sekjen PB PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indoneisa), Ir Tigor Tanjung, menulis tentang..
2 minggu yang lalu

Penerbangan Lumpuh, Maskapai Ini Buka Restoran Bertema Pesawat

POROSJAKARTA.COM, BANGKOK - Menu makanan pesawat sebenarnya tidak memiliki reputasi terbaik dibanding jenis makanan..
Wirausaha - 2 minggu yang lalu

Thai Airways Dikabarkan Bangkrut, Banting Stir Jualan Gorengan

POROSJAKARTA.COM, BANGKOK – Berbagai sektor industri di dunia mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19..
Wirausaha - 2 minggu yang lalu

ALFAKES Meminta Dukungan MPR RI Dibentuknya Institusi Pengawasan Kalibrasi Alat Kesehatan

POROSJAKARTA.COM, SENAYAN - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (tengah) menerima Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan..
Lihat Semua

Close





Close
Close