Kamis, 24 September 2020 WIB

RI (Mungkin) Resesi, Tapi Amit-amit Kalau Sampai Depresi!

Oleh : Mansyur Barus | Selasa, 08 September 2020 | 15:43 WIB



POROSJAKARTA.COM - Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun tulang punggung itu sekarang sangat keropos.

Data terbaru memberi konfirmasi bahwa rumah tangga masih 'tiarap'. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2020 berada di 86,9. Naik sedikit dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 86,2.

IKK menggunakan angka 100 sebagai awalan. Kalau masih di bawah 100, maka artinya konsumen masih pesimistis memandang situasi ekonomi saat ini dan beberapa bulan ke depan.

Sudah lima bulan berturut-turut IKK berada di bawah 100. Sejak menyentuh titik terendah sejak 2005 pada Maret lalu, IKK memang berangsur-angsur membaik. Namun belum juga menyentuh (apalagi melebihi) 100.

IKK dibagi menjadi dua sub-indeks besar yaitu Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IKE, yang melambangkan pandangan rumah tangga terhadap kondisi perekonomian terkini, masih lemah karena masih di bawah 100.

IKE dibagi lagi menjadi tiga bagian yaitu Indeks Penghasilan Saat Ini, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama. Ketiganya masih di bawah 100.

Pandemi virus corona benar-benar memukul perekonomian Tanah Air. Pembatasan sosial (social distancing) untuk meredam penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China itu membuat aktivitas ekonomi mati suri, baik di sisi permintaan maupun produksi.

Memang betul pemerintah sudah melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak Juni. Namun belum bisa kembali ke kondisi pra-pandemi, masih ada pembatasan di sana-sini.

Misalnya di DKI Jakarta, restoran, pusat perbelanjaan, perkantoran, sampai lokasi wisata sudah boleh dibuka kembali dalam payung PSBB Transisi. Akan tetapi pengunjung dibatasi maksimal 50% dan harus patuh protokol kesehatan.

Ini membuat skala ekonomi belum optimal, masih separuh dari normal. Jadi jangan heran kalau Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja masih sangat jauh di bawah 100, bahkan 50 pun belum. Ketika ketersediaan lapangan kerja penuh ketidakpastian, persepsi akan penghasilan dan keinginan membeli barang tahan lama ikut terhambat.

Oleh karena itu, akan sangat sulit berharap konsumsi rumah tangga bisa menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020. Padahal konsumsi rumah tangga begitu dominan dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi pengeluaran.Kelesuan konsumsi rumah tangga membuat peluang terjadinya kontraksi (pertumbuhan negatif) PDB pada kuartal III-2020 semakin tinggi.

Pada kuartal sebelumnya, Indonesia sudah mencatatkan kontraksi PDB sebesar 5,32% year-on-year (YoY). Kalau kuartal III-2020 ada kontraksi lagi, maka Indonesia resmi masuk jurang resesi.

Rilis data survei konsumen hari ini menjadi penting. Sebab, data ini bisa memberi gambaran lebih lanjut seberapa besar peluang Indonesia mengalami resesi.

Kali terakhir Indonesia mengalami resesi adalah pada 1999, sudah lebih dari 20 tahun lalu. Tidak heran kepastian apakah Indonesia bakal resesi atau tidak menjadi sorotan publik.

"Kalau tetangga Anda kehilangan pekerjaan, itu namanya resesi. Namun kalau Anda yang kehilangan pekerjaan, itu depresi."

Kutipan itu datang dari Harry S Truman, Presiden AS ke-33 yang menjabat pada 1945-1953. Truman menggambarkan bahwa skala resesi tidak ada apa-apanya ketimbang depresi. Saat depresi menghampiri, maka yang namanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan sangat masif sehingga Anda dan tetangga Anda menjadi korban

Oke, mungkin Indonesia hampir mustahil menghindar dari jurang resesi. Sekarang kita perlu move on ke pertanyaan selanjutnya, apakah resesi itu bisa 'naik pangkat' jadi depresi?

Ada banyak literatur yang memberi definisi depresi. Namun intinya ada dua syarat utama sebuah negara sah disebut depresi yaitu:

  1.     Kontraksi PDB lebih dari 10%.
  2.     Resesi bertahan selama dua tahun atau lebih.

Pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia memang terkontraksi, dan sangat mungkin terulang pada kuartal berikutnya. Namun kalau kontraksinya sampai lebih dari 10%, rasanya kok tidak.

Pemerintah memperkirakan kontraksi ekonomi nasional pada kuartal III-2020 paling mentok 2% YoY. Sementara Mirae Asset punya proyeksi kontraksi PDB sebesar 1,08% YoY. CNBC Indonesia

 


Komentar


Jakarta Pusat - 17 jam yang lalu

Sri Mulyani Pastikan RI Resesi, Apa yang Bakal Terjadi?

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi nasional resesi pada..
Jakarta Pusat - 18 jam yang lalu

Erick Thohir Ingatkan Vaksin Tak Hilangkan Covid-19

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengingatkan bahwa dengan..
Jakarta Pusat - 1 hari yang lalu

22 September Di DKI Tambah 1.236 Kasus Positif Covid-19

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA – Pandemi Covid-19 hingga saat ini masih mengalami penambahan di beberapa..
Jurnalis Warga - 5 hari yang lalu

Mengapa Angka Kematian Covid-19 Singapura Paling Rendah di Dunia?

POROSJAKARTA.COM, SINGAPURA - Singapura memiliki jumlah kematian kasus virus korona terendah secara global,..
Jakarta Pusat - 5 hari yang lalu

Sejumlah Perkantoran Tutup Sementara

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta, Chaidir menyatakan sejumlah..
Jakarta Pusat - 5 hari yang lalu

Kemenkes Jadi Klaster Penularan Covid-19 Tertinggi di Jakarta

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Kementerian Kesehatan RI menjadi klaster penyebaran Covid-19 tertinggi di wilayah DKI..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

Hadirkan Jusuf Kalla, Universitas Bangka Belitung Sukses Gelar Webinar Nasional Dampak Covid19

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Untuk kedua kalinya Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Bangka Belitung kembali..
Jakarta Pusat - 1 minggu yang lalu

Istri Saefullah Minta Tak Kirimi Karangan Bunga, Ini Alasannya

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Keluarga almarhum Saefullah meminta kerabat tak mengirimi karangan bunga..
Jakarta Pusat - 1 minggu yang lalu

Sekda DKI Saefullah Meninggal Karena Covid-19

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Sekretaris Daerah atau Sekda DKI Jakarta Saefullah meninggal dunia karena Covid-19...
Lihat Semua

Close





Close
Close