Rabu, 12 Desember 2018 WIB

Musang Lover Indonesia, ‘Sarang’nya Pecinta Musang

Oleh : Aqila Zafira | Rafi Adam | Minggu, 20 Nopember 2016 | 07:17 WIB



TEBET, PJ - Sebagian orang pasti berpikir dua kali untuk hidup bersama dengan musang, carnivora liar yang dianggap galak. Namun tidak bagi anggota Musang Lovers Indonesia (MLI), mereka malah tidur bareng musang peliharaannya

Sadar bahwa belum banyak orang yang tertarik memelihara musang seperti memelihara anjing atau kucing, anggota MLI di semua cabang, termasuk di Jakarta giat melakukan sosialisasi memperkenalkan kepada masyarakat bahwa musang layak dipelihara seperti hewan peliharaan pada umumnya.

Menurut Bhinneka Putra Linanta, Ketua MLI Regional Jakarta, seperti halnya anjing atau kucing, musang juga bisa jinak kepada ‘majikannya’ . “Namun kepintaran musang tidak seperti anjing atau kucing. Bahkan tidak semua musang akan mengerti jika dipanggil namanya,” cerita mahasiswa yang biasa disapa Benny ini.

Meskipun tidak pintar, sosok musang yang eksotis musang menjadi daya tarik tersendiri. “Ada banyak jenis musang. Masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri. Musang pandan yang mengeluarkan wangi pandan, musang bulan yang berbulu bagus atau jenis lainnya,” papar Benny yang sedang merampungkan kuliah fakultas hukum di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta Selatan ini.

 MLI adalah contoh nyata tempat berkumpulnya para pecinta hewan tersebut. Meski terbilang tak sebanyak komunitas pecinta binatang peliharaan lain, namun nyatanya kelompok yang berdiri sejak Februari 2012 ini sudah beranggotakan lebih dari 100 orang.

"Pelihara Musang karena berbeda dengan hewan lain. Musang ini sangat eksotik. Buktinya, sudah sebanyak 150 orang anggota di Jakarta," kata Benny

Pria yang baru bergabung di MLI pada Januari 2013 ini lalu memelihara tiga ekor dari dua jenis yang berbeda. "Saya pelihara dua musang Pandan Bali dan Musang Bulan," ucap mantan ketua MLI Jakarta Selatan tersebut.

Selama berdirinya MLI, kelompok tersebut terus mensosialisasikan hewan bermoncong ini ke masyarakat luas untuk meyakinkan bahwa musang juga layak untuk dilestarikan dan dipelihara. "Kita adakan sosialisasi di berbagai tempat bahwa musang sangat layak dipelihara sebagaimana hewan peliharaan lainnya. Ternyata hasilnya positif. Banyak orang yang mulai tertarik," ujarnya.

Lebih lanjut, Beny yang baru menjabat ketua pada Oktober 2013 lalu ini mengungkapkan dengan dibentuknya MLI sendiri sekaligus untuk menghindarkan dari perburuan liar. "Sosialisasi ini juga untuk mengurangi perburuan Musang yang biasanya akan dijadikan sebagai hiasan setelah diberi air keras. Orang taunya Musang itu hewan buas, padahal Musang bisa dipelihara," lanjut mahasiswa semester akhir ini.

Diakuinya, ada banyak kesulitan untuk menjinakkan musang, terlebih taraf kepintaran hewan pemburu ini tidak sama seperti hewan peliharaan lainnya. Paling tidak jika sudah nurut, bila dipanggil namanya pasti akan menghampiri. "Umur Musang paling lama bertahan antara 15 hingga 20 tahun. Dan kalau untuk perteumbuhan sendiri hanya sampai 3 tahun, setelah itu sduah tidak berkembang lagi," ucap Beny.

"Untuk memelihara musang liar yang usianya di atas satu tahun, agak sulit jika harus menjinakkannya. Makanya kebanyakan orang pelihara dari beby umur 2 bulan. Tapi kalau berinteraksi secara terus-teusan dia pasti akan cepat jinak, paling sebulan. Kalau sudah jinak total paling tidak dia bisa ikutin tuannya," bebernya.

Beny mengakui, memelihara musang tidak menguras kantong. Selain tidak membutuhkan perawatan khusus, makanannya pun mudah didapat. "Untuk masalah makanan sih bervariasi. Musang ini juga bosen-bosenan. Makannya juga kaya manusia, makan nasi," ucapnya.

"Dia lebih banyak makan buah-buahan. Paling tidak kita beli pisang Rp 10 ribu bisa untuk dua sampai tiga hari. Nah kalau musang lagi sakit, ciri-ciri itu terlihat lemas, nafsu makan hilang dan kalau dibuka rongga mulutnya berwarna pucat. Kalau perawatan khusus tidak ada. Sama halnya seperti pelihara anjing atau kucing. Dimandikan, dibersihkan kandangnya. Kalau sakit, paling dikasih obat atau bawa ke dokter hewan," kata pria 25 tahun ini.

Seminggu Sekali

Anggota MLI melakukan pertemuan rutin tiap minggunya. "Kalau ngumpul seminggu sekali. Kalau di Jakarta Selatan biasanya di Taman Tebet, kalau di Jakarta Timur itu di depan Mall Cijantung dan di Kalimalang itu di Cipinang Indah di. Dan tiap Car Free Day biasanya di Bundaran HI di depan Wisma Nusantara," katanya.

Komunitas ini juga bukan hanya sekedar ajang untuk kumpul-kumpul saja. Namun mereka melakukan hal positif seperti mengadakan sosialisasi pemeliharaan musang. "Ya biasanya kalau sudah ngumpul gitu kita sharing, terus tetap mensosialisasikan musang ke masyarakat, lewat kampus-kampus," bebernya.

Untuk gabung ke dalam keluarga MLI sendiri, Beny mengaku tidak ada syarat khusus. Bahkan orang yang tidak punya musang juga boleh masuk ke komunitas ini. "Tidak ada syarat tertentu yang terpenting sih pecinta musang. Mau dia punya atau tidak punya, tetap boleh bergabung," tandasnya.

Sama halnya seperti anjing dan kucing, ternyata kontes musang juga sering diselenggarakan. Dalam kategori lomba tersebut, Benny menjelaskan ada kelas-kelas yang berbeda. "Kemarin kita adain Kontes Musang Nasional di ITC BSD. Lomba itu sendiri ada ketentuan dan kategorinya yang dikelompokkan per jenis, mulai dari Musang Baby yang terdiri dari Musang Pandan Baby dan musang Bulan Baby. Yang kedua ada Musang Pandan Dewasa dan musang Pandan Obesitas yang dinilai beratnya di atas 10kg," imbuhnya.

Benny mengharapkan, dengan dibentuknya berbagai macam komunitas musang di Indonesia, bisa mencegah dari perburuan liar yang nantinya berujung pada kepunahan. Dia berpesan, semua binantang, baik yang liar, pasti bisa akan menjadi jinak jika diajarinya dengan ketulusan hati. []

 

 

 


Komentar


Jakarta Selatan - 9 jam yang lalu

Sisca Dewi : Saya Lebih Takut Dosa

PJ, PASAR MINGGU – Usai sidang kasus pencemaran nama baik dan pemerasan, terdakwa Sisca Dewi mengaku tidak..
Jakarta Pusat - 11 jam yang lalu

Silaturahim Bersama Ajak Relawan WIN Jaga Kerukunan dan Toleransi

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Relawan WAhana Cinta NKRI atau (WIN) berkumpul Menyanyi, menari serta berjoget bersama..
Jakarta Timur - 2 hari yang lalu

Menteri Yohana : Lansia Belum Diperhatian Secara Optimal

POROSJAKARTA.COM, TMII - Menteri Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA RI) Yohana Yambise..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

Ketua PKRI, Stevanus Wetipo Mengutuk Keras Kelompok KKP Membunuh 31 Karyawan Pekerja Jalan Trans Papua

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Ketua Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, Stevanus S. Wetipo mengutuk keras tindakan..
Jakarta Pusat - 1 minggu yang lalu

Kuasa Hukum Hutomo Mandala Putra, Erwin Kallo: Kami bukan Pemilik Gedung Granadi, Kami Hanya Penyewa

POROSJAKARTA.COM, JAKARTA - Maraknya berita-berita yang tidak benar tentang disitanya gedung Granadi terkait..
Jakarta Timur - 1 minggu yang lalu

PKRI MENOLAK RENCANA AKSI MAHASISWA PAPUA SE JAWA BALI TANGGAL 1 DESEMBER 2018

POROSJAKARTA.COM, CAWANG - Persatuan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) menolak keras semua bentuk aksi..
Nusantara - 1 minggu yang lalu

Panglima TNI: Latihan Operasi Gabungan Tingkatkan Profesionalisme TNI

POROSJAKARTA.COM, SITOBONDO - Latihan Operasi Gabungan di Puslatpur Marinir 5 Baluran Situbondo, yang digelar dalam..
Sosok - 1 minggu yang lalu

Prof YK : Satgas Peradilan RI Hadir di Gorontalo Kawal Pelanggaran Hukum dan HAM

POROSJAKARTA.COM, MENTENG - Kehadiran Satuan Tugas Peradilan Rakyat Indonesia atau Satgas Peradilan RI dibawah..
Nusantara - 1 minggu yang lalu

Bagikan Buku Gratis Dalam Rangka Peduli Pendidikan di Puncak Jaya

POROSJAKARTA.COM, PAPUA -Tim Pembinaan Masyarakat TNI bersama Kodim 1714/Puncak Jaya berkunjung  ke pemukiman..
Film - 2 minggu yang lalu

Film One Cut Of The Dead (2018): Horor Thriller Zombie dari Jepang

POROSJAKARTA.COM -  Film One Cut of the Dead, yang memiliki judul lain Camera wo Tomeru na, adalah film Jepang..
Lihat Semua

Close



Indeks


Close