Meski Lumpuh, Suheri Bisa Ekspor Rumah Barbie ke Belanda

0

 

JAKTIM – Bisnis mainan anak memang sedang berkembang belakangan ini. Mainan yang bagian dari boneka Barbie ini kini makin banyak dibutuhkan untuk melengkapi koleksi boneka asal Amerika tersebut.

Akibat kecelakaan mobil pada tahun 1971 di Pulau Sumatra, Kota Palembang yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua kakinya, tidak mengurungkan niat pria tua ini , Suheri (65) untuk mengembangkan usaha yang telah di gelutinya sejak tahun 1974.

Suheri mengatakan, memang awal pembuatan usaha rumah Barbie ada kaitannya dengan kecelakaan. Setelah kecelakaan dia berobat ke Jakarta, sehingga pengobatannya harus di asramakan ,karena biar terkontrol oleh perawat-perawat yang mengobatinya.

“Tahun 71 saya kecelakaan mobil di Palembang sehingga saya lumpuh begini, terus 71 – 74 saya berobat ke Jakarta. Lalu saya berobat di Jakarta diberikan Asrama, di asrama itu cuma iseng-iseng waktu bikin kerajinan dari kayu, salah satunya adalah rumah bonekanya,” ujar Suheri kepada Wartabuana di kantornya, Jl Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (26/03/2014).

Suheri menjelaskan, dari iseng-iseng ditahun 74 tersebut, tidak secara sengaja ada orang asing (bule) datang ke asrama tersebut, dengan awalan untuk melihat-lihat hasil kerajinan kayu Suheri. Namun, akhirnya orang bule tersebut memesan, karena untuk dipasarkan lagi dinegaranya.

“Lalu datang orang asing ke asrama itu, sehingga dia melihat dan untuk pesan kerajinan kayu , untuk di jual ke luar negri,”jelasnya.

Pada tahun 1989, lanjut Suheri, dirinya memutuskan keluar dari asrama dengan bermaksud untuk membuka usaha sendiri membuat rumah-rumahan boneka Barbie.

“Saat itu, sehari bisa bikin satu sapai tiga unit rumah Barbie,” katanya.

Suheri mengaku, awal punya modal sedikit, dengan modal 1 sampai 1,5 juta untuk modal-modal pertama untuk membangun usaha rumah Barbie ini. Akantetapi, pesanannya bukanya rumah boneka saja, kaya seperti meja belajar dan lemari, untuk di kirim keluar negri.

“Seperti Malaysia pernah , kanada pernah dan juga Belanda,”tuturnya.

Untuk membuat rumah Barbie sebelumnya mereka mempunyai desain rumah Barbie itu, karena banyak pesanan akhirnya menggunakan desain rumah kita sendiri, karena menurutnya itu tidak begitu sulit.

“Tapi belakangan ini sesuaikan dengan rumah kita, karena kalau mengikuti desain rumah kita tidak terlalu susah,”ungkapnya.

Suheri menceritakan, yang pertama dikerjakan dalam pembuatan rumah Barbie diambil dari gambar pola, terus setelah pola ada pemotongan kayu sesuai dengan pola yang telah ditentukan dan itu punya tugasnya masing-masing untuk mengerjakannya.

“Setelah itu potongan tersebut dirakit dengan bikin bodi mentah, nah untuk merakit ada orang sendiri juga,” jelasnya.

Untuk bikin bodi ada bagian tersendiri, kata Suheri, terus setelah bikin bodi ada pengecatan dan itu di kerjakan oleh bagian pengecatan. Lalu dari dempul , ngamplas sampai , jadi sampai finising ditanggung jawab

“Jadi biasanya bagian pengecatan hanya mengecat bodinya saja tidak dengan pemasangan asasioris seperti jendela, pintu dan pager itu ada org yang tugasnya kerjain itu. Nah untuk yang terakhirnya tinggal ngerapiin,” kata pria sambil tersenyum dan duduk dikursi rodanya.

Jadi, lanjut Surheri, Aura untuk menaruh tempat tidur dan boneka, itu ditaruh dari belakang. “Maksud dari rumah Barbie terbuka dari belakang biar bisa mainnya dari belakang untuk pemasangan,”jelasnya.

Suheri mengaku usahanya dulu eksport, tapi sekarang lokal, Pas waktu krisis ekonomi di tahun 1998, kalau mengekspor dia kirim ke Belanda, Kanada dan Malaysia. “Tapi kalau sekarang mereka pesan sendiri, dia datang terus paketin ,”ucapnya.

Namun, sekarang ini Suheri lebih banyak lokal, seperti Bandung, Palembang dan Banjarmasin pesanan rumag Barbie. untuk di dagangkan disana. Untuk diwilayah Jakarta, kata dia, di dagangkan di pinggiran kota Jakarta.

“Kalau di wilayah sekitar Jakarta itu di Pasar Gembrong, bekasi dan BSD,”jelasnya.

Sekarang ini, usahanya dah mulai berkembang sehingga Suheri sudah mempunyai beberapa karyawan yang seharinya dapat membuat rumah-rumahan Barbie sebanyak 60 sampai 100 unit untuk pesanan lokal saja.

“Itu tergantung, kadang-kadang 60 sampai 100 Unit untuk yang kecil. Jadi untuk pesanan yang di BSD, ada di banjarmasin, di Bandung. Nah untuk di Bandung anak buah saya kirim kesana agar dibandung bisa mandiri,” jelas Suheri.

Dia berharap kepada pemerintah, agar usahanya itu dapat diperhatikan. Menurutnya, terkadang dirinya tidak mengerti kenapa usaha menengah lebih cepet soal pengurusan birokrasi kalau ada pameran atau even penjualan produksi- dari Indonesia. [ ]

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here