Dulu Kali Angke, Sekarang Kali Jodo

0
7

Porosjakarta – Rencana penutupan lokasi perjudian dan pelacuran Kali Jodo di Kawasan Penjaringan, Jakarta Utara terus bergulir. Penghuninya berusaha minta keadilan, sementara Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama sudah “ngebet” ingin menjadi lahan luas itu sebagai kawasan hijau. Ternya Kali Jodo dulunya adalah tempat mencari jodoh.

Menurut sejarawan muda kelahiran Jakarta JJ Rizal, Kali Jodo memiliki sejarah panjang sebelum menjadi “kawasan merah” tempat pratek perjudian dan pelacuran. Sekitar tahun 1950-an, kawasan ini merupakan tempat kongkow anak muda, terutama keturunan Tionghoa.

“Kali Jodo berasal dari kata `Kali dan Jodo`. Kali yang berarti sungai, merujuk pada Kali Angke yang memang ada di lokasi itu. Sementara kata `Jodo` berasal dari tradisi pencarian jodoh yang memang sering dilakukan di lokasi tersebut,” ungkap JJ Rizal.

Keberadaan Kali Jodo yang awalnya benama Kali Angke, tidak lepas dari tradisi perayaan Peh Cun yang kerap diadakan oleh warga keturunan Tionghoa di Kali Angke. Peh Cun biasanya digelar setiap hari 100 penanggalan imlek. Salah satu tradisi dalam perayaan Peh Cun adalah pesta air. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi pria dan wanita yang sama-sama menaiki perahu melintasi Kali Angke.

 

Suasana Kali Jodo di siang hari /ist

Setiap perahu akan berisi tiga sampai empat orang pria atau wanita. Di perahu tersebut, si pria akan melihat ke perahu yang berisi wanita. Jika pria senang dengan wanita yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama tiong cu pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau.

Bagi wanita yang ditaksir jika ia senang ia akan melemparkan kue sejenis ke arah pria yang menyukainya. Selanjutnya, mereka menjalin asmara. Dari sinilah kemudian kawasan ini berubah menjadi Kali Jodo karena menjadi kawasan untuk mencari jodoh.

Menurut JJ Rizal, suasana kali yang saat itu sejuk dan banyak pohon juga menjadi alasan mengapa tempat tersebut menjadi lokasi favorit bagi anak muda untuk berkumpul, bahkan membawa pasangan mereka.

Namun wajah Kali Jodo berubah saat pemerintah menggusur pusat prostitusi di daerah Senen, Jakarta Pusat, di tahun 1950-an. Penggusuran kawasan Senen yang tidak diikuti dengan pembinaan, membuat para Pekerja Seks Komersial (PSK) bermigrasi ke Kali Jodo.

Di masa itu, kawasan tersebut masih bernama Kali Angke. Asal muasal berubahnya nama Kali Angke menjadi Kali Jodo tidak bisa dilepaskan dari tradisi peh cun dan pesta air yang sering diselenggarakan di kawasan tersebut.

Ca Bau Kan
Budayawan senior Remy Silado memiliki persepsi sendiri terkait kawasan Kali Jodo. Dalam novelnya berjudul Ca Bau Kan, Remy menuliskan bab khusus tentang Kali Jodo.

Menurutnya, asal muasal nama nama Kali Jodo berdasarkan pesta air pada tradisi Peh Cun, Remy Silado dalam novelnya menceritakan jika Ca-Bau-Kan lah yang kemudian melahirkan nama Kali Jodo.

Ca-Bau-Kan artinya wanita. Tetapi mengalami penyempitan makna menjadi wanita pribumi yang diperistri pria Tionghoa dalam kedudukan yang tidak selalu memperdulikan hukum Hindia Belanda. Dan kemudian menjadi Ca Bo yang berarti pelacur.

Daklam novel itu tertulis “Kali Jodo selama berabad telah menjadi tempat paling hiruk pikuk di Jakarta. Di sini, sejak dulu terlestari kebiasaan imigran Tionghoa menemukan jodoh, bukan untuk hidup bersama selamanya, tetap sekadar berhibur diri sambil menikmati nyanyian klasik Tionghoa, dinyanyikan para ca-bau-kan”.

 

Kali Jodo di malam hari / ist

“Para tauke-tauke yang mengelola ca-bau-kan akan memberi mereka kostum model opera berbahan sutera dengan warna-warni menyolok disertai bordir-bordir yang bermutu. Mereka berada di perahu-perahu yang dipasang lampion Tiongkok, bergerak pelan-pelan di kali itu”.

Di perahu itu para Ca-bau-kan menawarkan jasanya dengan menyanyikan lagu-lagu bersyair asmara dalam bahasa Cia-im. Walaupun ca-bau-kan ada yang wanita tionghoa totok, tetapi kebanyakan asli pribumi yang mahir menyanyikan lagu Tionghoa walaupun tidak mengerti arti nyanyiannya.

Walaupun demikian, pengunjung Kali Jodo bukan hanya dari etnis Tionghoa tetapi juga pelbagai suku yang mencari hiburan di situ.

Walaupun pada awalnya, kegiatan prostitusi tersebut dilakukan diatas perahu yang berlayar dari kwitang ke Kali Jodo, lambat-laun berubah menjadi rumah-rumah bordir. []

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here