Kita Masih Butuh Partai

0

Jelang Pilkada DKI Jakarta, partai-partai yang ada mempersiapkan calon-calon yang akan mereka usung dalam Pilkada 2017 mendatang. Oleh karena itu tidak mengherankan begitu banyak nama-nama calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang muncul untuk bersaing dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang rencananya mencalonkan diri lewat jalur independen.
Rencana Ahok mencalonkan diri lewat jalur independen, tentu membuat partai-partai yang ada merasa diabaikan. Parpol-parpol akan melakukan introspeksi ke dalam. Tentu dampaknya akan bagus bagi partai karena mereka akan memperbaiki diri dan mempersiapkan kadernya yang terbaik untuk bisa tampil dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta Februari 2017 mendatang.
Bagi Ahok sendiri, tampil melalui jalur independen akan menghadapi berbagai kendala, khususnya untuk memenuhi syarat jumlah KTP pendukung sesuai dengan ketentuan. Itu tidak mudah karena walau bagaimanapun KTP yang terkumpul itu harus lolos verifikasi. Jika jumlahnya tidak mencukupi maka ada kemungkinan Ahok dan pasangannya Heru tidak bisa tampil dalam Pilkada 2017.
Jika hal itu terjadi, maka pendukung Ahok akan kecewa. Jika mereka ngotot hanya memberikan suaranya kepada Ahok dan Heru maka mereka akan memilih golput atau tidak memberikan suara. Jika mereka golput tentu yang rugi adalah bangsa ini karena ada anggota masyarakat yang tidak memberi dukungan bagi Gubernur DKI Jakarta yang terpilih nantinya.
Undang-undang memang memperbolehkan jalur independen digunakan untuk mencalonkan diri menjadi gubernur, yang penting harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan undang-undang. Teman Ahok menggunakan jalur independen untuk mengusung Ahok jadi Cagub DKI Jakarta tentu dengan berbagai pertimbangan yang matang. Kita berharap jangan karena alasan tidak percaya kepada parpol atau alasan mahar maka Teman Ahok tidak memilih jalur parpol, karena alasan itu juga tidak seratus persen benar.
Kita harus mengakui ada kader parpol yang tidak benar, seperti yang kita saksikan belakangan ini. Itu hanya segelintir orang saja, sementara yang baik masih sangat banyak. Masih banyak kader-kader yang baik yang merupakan hasil didikan parpol karena salah satu tugas parpol adalah menciptakan kader-kader pemimpin bangsa.
Kita juga harus melihat ke belakang, hampir semua pimpinan bangsa ini berasal dari parpol, atau kader parpol, termasuk Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Begitu juga dengan para pendiri bangsa ini, sebagain besar mereka berasal dari partai politik.
Parpol masih sangat dibutuhkan bangsa ini dalam melaksanakan pembangunan. Parpollah yang akan menciptakan kader-kader yang akan menjadi pemimpin bangsa ini dan hal itu diatur di dalam undang-undang. Kader parpol juga yang duduk di DPR, DPRD baik di tingkat provinsi, kabupaten/walikota. Legislatif (yang isinya kader-kader parpol) bersama eksekutif yang membuat perda di tingkat daerah, mengontrol eksekutif dan tugas-tugas lainnya.
Negeri ini masih membutuhkan partai politik. Sesuai dengan undang-undang eksekutif tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya legislatif yang berisi kader-kader partai politik, begitu juga dengan yudikatif.
Kader parpol seharusnya tidak meninggalkan satu parpol jika melihat parpol kurang baik. Sebagai kader dia seharusnya melakukan perbaikan dari dalam, bukan meninggalkannya, apalagi pindah ke parpol yang lain.
Ahok boleh menggunakan jalur independen, tapi parpol juga tidak akan tinggal diam. Mereka akan berbenah dan kemungkinan besar bersatu mengusung calon gubernur untuk bersaing melawan incumbent. Sekaligus tentu saja menggerakan mesin partai untuk memenangkan calonnya. Dan sekarang dengan majunya Ahok melalui jalur independen, parpol yang ada di DKI Jakarta menunjukkan tanda-tanda bersatu. Jika mereka bersatu akan muncul suatu kekuatan yang sangat dahsyat untuk menggolkan calon mereka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here