Bedah Buku Sarinah, Kewajiban Wanita dalam Perjuangan RI Karya Bung Karno

0
62
Gb (ki-ka) KGPH, Soeryo Soedibyo Mangkuhadiningrat, Ningdya Noegraha dan Hardjono, pada acara bedah buku "Sarinah" diruang Auditorium Lantai 2 Gedung Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2018). (Foto: PJ/Zaki)

POROSJAKARTA.COM, GAMBIR – Bedah buka “Sarinah”, Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, rupanya mendapat apresiasi dari masyarakat luas karena ditulis langsung oleh proklamator Insinyur Soekarno.

Acara bedah buku Sarinah tersebut berlangsung diruang Auditorium Lantai 2 Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2018).

Dalam pembahasan buku Sarinah menghadirkan narasumber, H. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Soeryo Soedibyo Mangkuhadiningrat (Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al Kamal Jakarta dan DR. Hardjono, SH. MH. MFil (Dosen Pascasarjana UKI), Moderator  Ningdya Noegraha.

Menurut Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando, Gedung Sarinah, gedung pencakar langit yang terletak di Jalan Thamrin Jakarta Pusat adalah gedung yang pertama kali dibangun oleh Bung Karno untuk mengenang Sarinah.

Sarinah, katanya adalah nama salah seorang wanita atau Si Mbok yang membimbing dan mengajarkan Bung Karno, bagaimana mencintai ibunya, mencintai rakyat jelata dan bagaimana mencintai semua orang yang konon kabarnya setiap Sarinah itu menyuapi Bung Karno, selalu ada niat-niat dari sesuap nasi yang dimakan.

“Saya kira banyak niat baiknya, sehingga Soekarno menjadi seorang proklamator dan menjadikan kita bangsa Indonesia yang merdeka, “kata Muhammad  Syarif Bando dalam sambutannya saat membuka acara  bedah buku Sarinah di Gedung Perpustakaan Jakarta.

.Banyak hal yang dipetik dari Gedung  Sarinah, ternyata gedung tersebut sejak dulu menjadi tempat ekspor impor. Indonesia  bisa mengirim hasil-hasil bumi keluar negeri. Juga tempat impor dari negeri Belanda, Pernacis, Australia dan lain-lain. Jadi bukan hanya tempat departemen store.

Intinya adalah pusat perdagangan saat itu dan merupakan upaya sungguh-sungguh Bung Karno ingin mengenang ibu yang membimbingnya, yakni Sarinah.

Ketika pindah ke Jogya pertama kali, Soekarno memikirkan tentang wanita dan mengatakan susah menata negara, susah menata masyarakat tanpa mengetahui perempuan. Begitu uniknya perempuan.

Maka dari itu, pada acara bedah buku Sarinah,  dirinya berharap akan semakin menguatkan jati diri perempuan Indonesia dan memajukan eksistensi Perpusnas untuk terus menggali potensi-potensi kebaikan dari setiap orang sekecil apapun.

“Kami berharap Perpusnas merupakan institusi lembaga benteng yang terakhir yang tidak pernah mengusik dan menebar kebencian, tetapi sejatinya adalah sebuah institusi yang terus menerus mengeksplorasi kebaikan- kebaikan sekecil apapun. Menyebarkan dan mengambil kebaikan-kebaikan dari pemimpin bangsa, “ujar Syarif Bando.

Sementara dalam pembahasan narasumber KGPH Soeryo Soedibyo menyampaikan Bung Karno adalah  seorang yang memiliki kecerdasan istimewa yang mempunyai sifat-sifat tiga K yaitu Kesempatan, Kemauan dan Kemampuan.

“Kesempatan” yakni, tidak semua orang bisa membaca dan memanfaatkan kesempatan dan “Kemauan” menurutnya, kalau ada kesempatan yang lewat didepan mata, belum tentu setiap orang mau memanfaatkannya. Kalau orang yang cerdas, kesempatan sesempit apapun, pasti akan dicapai .

Sedangkan “Kemampuan” yakni, banyak orang yang mempunyai kesempatan dan ingin memanfaatkannya tetapi dia tidak mempunyai kemampuan untuk mewujudkannya.

Gabungan ketiga ini, kata Soeryo  melekat pada Bung Karno, proklamator bangsa Indonesia. Soekarno juga mempunyai elemen ini dan dapat memanfaatkannya. Contoh Ketika perang dunia II berlangsung, Hitler membumi hanguskan negeri Belanda pada bulan Mei 1942, peristiwa ini otomatis membuat koloninya di Hindia Belanda yang kelak bernama Republik Indonesia menjadi lemah.

Dalam bukunya yang berjudul Sarinah, Bung Karno jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan sudah sadar, bahwa peranan wanita dalam perjuangan itu tidak bisa dinafikan. Baik wanita sebagian pendamping laki-laki dalam mengelola rumah tangga maupun sebagai pejuang revolusi nasional.

“Wanita harus bersatu aksi, baik dengan laki-laki maupun dengan para wanita berjuang dalam revolusi nasional itu. Kata Bung Karno dalam bukunya yang saya baca.  Bung Karno berpikiran agar kedepan tidak ada lagi eksploitasi manusia oleh manusia dan atau eksploitasi manuaia oleh negara, utamanya eksploitasi terhadap wanita, ujar Soeryo.

Narasumber Hardjono dalam pembahsan mengatakan, untuk mendapatkan pemahaman subtansi materil yang tertuang dalam buku tersebut dengan syarat, yakni,

Pertama, memahami alur pemikiran Bung Karno yang bersifat dialektis, progresif radikal revolusioner yang bersumber pada tuntutan hati nurani kemanusiaan (Sosial Conscience of Man) yang bersifat universal, sintetik-induktif dan analitik-dedukatif, pemikiran yang historis-visioner (lintas waktu) dan lintas persoalan terpadu, pendekatan korespondensi, dialogis, interaktif tetapi tetap konsisten dan koheren. Oleh karena itu mampu melakukan convergentle thinking, sensing, feeling dan believing.

Kedua, memahami situasi dan kondisi Indonesia pada saat Bung Karno menulis buku Sarinah pada 3 November 1947 sebagai hasil  perenungannya selama bertahun-tahun dengan pendekatan historis kultural dalam melawan system kolonialisme, imperialisme, kapitalisme dan feodalisme yang menindas bangsa-bangsa di dunia termasuk bangsa Indonesia.

Ketiga, pemikiran Bung Karno dalam Sarinah berada dalam prespektif keilmuan atau filsafat ilmu yang mengandung prespektif pemikiran yang multidimensional yang sangat mendasar yaitu ontology, epistemologi dan aksiologi.

“Secara obyektif dapat dikatakan bahwa tulisan Bung Karno dalam buku Sarinah adalah suatu karya ilmiah dengan mengambil sub-tema “Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia” , sebagaimana dalam sub-judul buku Sarinah pada cetakan ketiga 1963 penerbit Panitya buku-buku karangan Bung  Karno. Oleh karena itu Bung Karno menggunakan aspek tematis filosofis, “ujar Sardjono. [PJ/Abuzakir Ahmad]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here