JJ Amstrong Sembiring Sesali Pihak Polsek Balaraja Tak Hadiri Sidang Praperadilan Kasus Ibu Ersie

0
23
Pengacara Senior, JJ Amstrong Sembiring. (Foto/ist)

POROSJAKARTA.COM, TANGERANG – Pengacara Senior, JJ Amstrong Sembiring selaku Pemohon praperadilan mewakili kliennya, Ersie, mengaku kecewa dengan ketidakhadiran Polsek Balaraja selaku termohon dalam sidang Praperadilan melawan Ersie di Pengadilan Negeri Tangerang.

JJ Amstrong berpendapat, dalam hal ketidakhadiran Polsek Balaraja selaku termohon tanpa penjelasan, terlihat bahwa Polsek Balaraja tidak bersungguh-sungguh menghadapi Sidang Praperadilan. JJ Amstrong meminta kepada Hakim agar diputuskan kesungguhan dari Polsek Balaraja untuk menghadapi sidang ini di Pengadilan Negeri Tanggerang, Senin, (14/05/2018).

Amstrong, yang mem-praperadilankan Polsek Balaraja terkait dengan dugaan kesalahan prosedur dalam penangkapan Ersie, telah mengajukan gugatan Praperadilan pada Senin 30 April 2018 lalu.

Majelis Hakim Tunggal, Mahmuriadin dalam persidangan sempat menyindir termohon yang tidak hadir tanpa penjelasan. Selepas membuka persidangan, begitu mengetahui ketidakhadiran Polsek Balaraja selaku termohon, Hakim mengatakan “Ini Penyakit lama,” Kata Hakim saat sidang perdana praperadilan Ersie vs Polsek Balaraja.

Hakim menjelaskan, bahwasannya sidang praperadilan merupakan sidang Semi perdata. “Pidana yang disemikan menjadi perdata, dan (sidang) praperadilan sama dengan perkara-perkara yang ditentukan jangka waktu penyelesaian pemeriksaannya.

“Karena kita dibatasi dengan jangka waktu pemeriksaan (yang hanya) tujuh kali atau tujuh hari sidang, sudah harus selesai, maka, bila mana termohon tidak hadir dalam jangka dua kali panggilan resmi, maka sidang dilanjutkan,” tegas Mahmuriadin.

Dalam hal ini, jika minggu depan, polsek Balaraja tetap tidak hadir, maka Hakim telah bersepakat untuk tetap melanjutkan persidangan. Sementara sidang perdana ini, ditunda oleh hakim. Sidang dilanjutkan kembali pada tanggal 21 Mei 2018 pekan depan.

Kesepakatan di muka persidangan

Meski kecewa dengan penundaan ini, namun Amstrong Sembiring mengaku cukup puas dengan kesepakatan yang dibuat dalam persidangan antara Hakim dengan dirinya

“Pada saat berdiskusi di ruangan persidangan dengan hakim. Hakim itu satu persepsi dengan saya. Karena biasanya, ketidaksungguhan dari pihak termohon itu merupakan satu penyakit yang seringkali terjadi dan merugikan pihak Pemohon.” Kata Amstrong Sembiring seusai persidangan.

“Artinya dalam hal penangkapan, tidak legitimite, hanya terbentur dengan persoalan regulatif. Tadi cukup jelas Hakim memberikan gambaran dalam perspektifnya seperti itu. Sebenarnya benang merahnya sama dengan pendapat saya,” tambahnya.

Sebab, menurut Amstrong, hakim yang baik memang demikian. Hakim mengambil jalan keluar, nantinya akan diberikan pemanggilan terakhir. “Bilamana termohon tetap tidak hadir maka sidang dilanjutkan tanpa kehadiran pihak termohon. Artinya saya bersidang tanpa ada pihak termohon. No problem bagi saya. Tidak ada masalah.” tegas Pengacara Senior ini.

Padahal, kata Amstrong, esensi sebenarnya dari praperadilan adalah untuk memproteksi hak asasi orang yang ditangkap atau mengalami penangkapan yang tidak sesuai prosedural hukum, atau yang dianggap telah menyimpang.

Kendati demikian, apakah persidangan itu dapat disebut sebagai persidangan yang legitimate? Menurut Amstrong, kesepakatan dan keputusan hakim yang tetap melanjutkan persidangan tanpa kehadiran termohon pada sidang pekan depan, tetap legitimate.

“Secara hukum tetap legitimite, karena itu adalah hasil opini dari pihak Hakim. Hakim itukan produk Hukum yaa, yang dia (hakim) keluarkan itu adalah Undang-undang. Kita sepakat. sebenarnya itu menjadi cerminan dari Kepolisian juga, supaya dapat instropeksi agar jangan ada preseden (buruk) ke depan. Jangan semana-mena terhadap setiap warga negara Indonesia,” pungkasnya. [PJ/Son].

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here