Padepokan Silat Godotan Baba Kacong, Tunjukan Kebolehan dalam Adat Betawi Palang Pintu

0
190
Godotan Baba Kacong dalam adat Betawi "Palang Pintu" di Jalan Rambutan Jati Asih Bekasi, Minggu (11/3). (Foto : PJ/Zaki)

POROSJAKARTA.COM, BEKASI –  Siapa yang tidak kenal Padepokan Pencak Silat “Godotan Baba Kacong”, salah satu padepokan atau paguyuban di wilayah Jati Asih yang terkenal dengan jurus silatnya yang unik, berbeda dengan jurus silat lainnya.

Padepokan pimpinan Bang Bontot, kali ini mempertunjukkan kebolehannya dalam dunia persilatan yang identik dengan budaya Betawi dalam penyambutan pengantin pria yakni “Palang Pintu”.

Pada adat “Palang Pintu” pengantin pria Muhamad Abidin (Bidin) tentu saja tidak sembarangan menemui pujaan hatinya Syifa Fitriana (Syifa). Pengantar Bidin harus melalui dulu dengan balas pantun. Kemudian rintangan selanjutnya, pengantar pengantin pria yang dibekali dengan ilmu silat dan dilengkapi golok harus mengalahkan pesilat dari pihak pengantin perempuan.

“Tapi, rata-rata pihak pengantin perempuan kalah sih, sejago apapun, hehe, “canda salah seorang warga yang menyaksikan “Palang Pintu” di rumah kediaman keluarga A. Suryadi (Nchex Prabu Angkasa) dan Maklah, Jalan Rambutan, Jati Asih, Bekasi.

Usai adu silat adat Palang Pintu, kedua orang tua pihak perempuan langsung mendampingi pengantin pria untuk prosesi akad. (Foto: PJ/Zaki)

Menurut Bang Brother atau Bang Brader, membicarakan budaya Betawi “Palang Pintu” dalam suatu acara pernikahan atau pun khitanan, tujuannya supaya adat istiadat Betawi itu tidak punah, tidak tergilas oleh arus globalisasi,  budaya dari luar.

“Dalam budaya Betawi itu paling utama adalah “Palang Pintu” untuk penyambutan pengantin atau acara yang dianggap sangat berkesan bagi penyelenggara suatu acara tertentu, “ujar Bang Brader pada porosjakarta.com usai prosesi akad nikah, Minggu (11/3/2018).

Palang Pintu ini, kata dia, kebetulan  hanya acara keluarga, namun untuk selanjutnya ada event lainnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan kebudayaan Betawi. Event itu seperti perayaan hari-hari besar yang bertujuan untuk menyatukan suatu silaturrahmi, sesuai motto Padepokan Godotan Baba Kacong,  “Menciptakan Keakraban Silaturrahmi Dalam Budaya”.

Dibanding beberapa tahun lalu,  budaya Betawi dikesampingkan. Untuk itu, kata dia, karena takut punah di zaman yang “now”, banyaknya idiologi-idiologi dari luar, mempunahkan budaya-budaya di Indonesia termasuk budaya Betawi, maka tidak salah, Padepokan Godotan Baba Kacong berusaha tampil kedepan.

“Godotan Baba Kacong mencoba membangkitkan suatu kebudayaan di zaman “now” yang mengenalkan kepada anak cucu kami, supaya kebudayaan Betawi tidak punah, “tambahnya.

Terkait baju Pangsi Betawi , itu bukannya istilah dalam suatu jawara, namun baju Pangsi Betawi itu adalah kebudayaan dari nenek moyang Betawi. Jadi, kebanggaan mengenakan baju itu tetap ada.

Bang Bontot (empat kiri), Bang Brader (kedua kiri) dan anggota Godotan Baba Kacong usai acara Palang Pintu. (Foto: PJ/Zaki)

Sebagian, ketika pertama kali pakai baju Pangsi, kata dia, wajar saja jika merasa malu atau merasa risih. Tapi karena keinginan kuat, semangat memajukan budaya Betawi, maka perasaan itu  hilang. Apalagi ada wadahnya di Jati Asih yang membuat mereka bangga untuk membudayakan Betawi. Intinya, masyarakat sekarang sangat antusias dan merasa bangga dengan budaya Betawi,

Godotan Baba Kacong bukan hanya diundang oleh warga Betawi, namun suku Batak, Ambon, Sulawesi, Sumatera dan lain-lain juga mengundang mereka. Alasannya, karena tertarik dengan suatu permainan seperti Ondel-Ondel, Palang Pintu, Pantun, Tarian dan lain-lain.

“Kami juga hanya berbagi, belajar, berkarya yang bermanfaat untuk majukan budaya Indonesia, “katanya.

Bang Brader berharap, budaya Betawi tetap bangkit, sehingga bisa dirasakan  atau dinikmati oleh anak cucu. Tidak punah oleh idiologi-idiologi dari luar atau dimakan oleh suatu zaman. semakin modern namun tetap eksis terus.

Dia juga berharap,  Padepokan Godotan Baba Kacong tetap berkembang dan maju. Pencak silat ini menjadi suatu olah raga yang sangat modern, menyehatkan, menambah energi, kebersamaan dan membantu untuk memantapkan jiwa.

“Untuk pengantin, kedepannya kami berharap diberikan panjang jodoh, langgeng dan sakinah mawadah warahmah, “tandasnya. [PJ/ Abuzakir Ahmad]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here